BKD DPRD Sumut Dinilai Pasif soal Penahanan Dodhy Thahir
MEDAN — Badan Kehormatan Dewan (BKD) DPRD Sumatera Utara memilih menunggu arahan kepolisian setelah anggota dewan Dodhy Thahir ditahan penyidik Polda Sumatera Utara atas dugaan pemalsuan surat tanah. Pernyataan itu disampaikan Ketua BKD, Pantur Banjarnahor, pada Jumat (18/9).
BKD: tunggu arahan Polda
Pantur menyatakan BKD belum menetapkan langkah internal terhadap Dodhy Thahir. Ia menyebut pihaknya menunggu perkembangan dan arahan dari pihak kepolisian sebelum mengambil tindakan yang lebih jauh.
"Kita masih menunggu arahan dan perkembangan selanjutnya dari Polda. Yang pasti, secara internal kita tetap fokus mengingatkan seluruh anggota untuk menjaga disiplin dan tata tertib,"
Kewenangan etik yang dipertanyakan
Sikap menunggu ini memicu kritik karena BKD memiliki wewenang menilai pelanggaran etik dan tata tertib anggota dewan secara internal. Secara teori, proses etik di parlemen bisa berjalan paralel dengan proses pidana, tanpa harus saling menunggu.
Pantur tidak merinci kemungkinan pemberian sanksi etik, pemberhentian sementara, atau evaluasi internal untuk Dodhy Thahir. Ia lebih memilih menegaskan peran pengawasan umum lembaga terhadap disiplin anggota.
"Kita selalu mengingatkan seluruh anggota untuk menjaga kode etik, menjaga ketertiban dan meningkatkan kewaspadaan, tentunya tanpa melanggar aturan hukum yang ada,"
Respons dan implikasi
Pernyataan BKD yang bersifat menunggu dinilai minim substansi oleh kalangan yang berharap ada tindakan tegas ketika anggota dewan berstatus tersangka. Argumen yang muncul menyoroti bahwa frasa 'menghargai proses hukum' sering dipakai lembaga legislatif untuk menghindari langkah internal.
Di sisi lain, BKD menegaskan keberpihakannya pada prinsip hukum dan tata tertib lembaga, serta menyerukan agar seluruh anggota menjaga nama baik DPRD Sumatera Utara dan kewajiban etiknya.
"Kita menghargai dan menghormati proses hukum yang sedang berjalan,"
"Harapan kita ke depan, seluruh anggota DPRD Sumatera Utara bisa menjaga citra dan nama baik lembaga. Kita harus sama-sama menjaga ketertiban, etika dan kepatuhan terhadap hukum,"
Ke depan
Sampai ada arahan resmi dari Polda, BKD tetap pada sikap menunggu sambil melakukan pengingat internal terhadap anggota dewan. Kasus ini membuka perdebatan tentang kapan dan bagaimana proses etik DPRD harus berjalan terkait anggota yang tersangkut dugaan pidana.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Pemerintah Turunkan Bunga PNM Mekar menjadi 8% Flat per Tahun
Pemerintah menargetkan suku bunga PNM Mekar diturunkan menjadi 8% flat per tahun, didukung subsidi Rp2,6 tri...
Golkar Labura Terima SK Kepengurusan 2025–2030, Fokus Konsolidasi
DPD Golkar Labuhanbatu Utara menerima SK kepengurusan 2025–2030 dan menargetkan konsolidasi serta regenerasi...
Razia di Rutan Banda Aceh, Senjata Tajam dan Benda Terlarang Ditemukan
Razia gabungan di Rutan Kelas IIB Banda Aceh menemukan senjata tajam dan barang terlarang, namun tidak menem...
Wali Kota: Sabang Potensial Jadi Gerbang Ekonomi dan Hub Maritim
Wali Kota Sabang hadir di seminar IKAL Aceh dan sebut Sabang berpotensi jadi hub maritim serta butuh kepasti...
Reses DPRK Subulussalam: Warga Keluhkan Lampu Jalan, Usulkan BLK Kecamatan
Warga Penanggalan keluhkan lampu jalan padam, usulkan BLK kecamatan, air bersih, dan penambahan kursi DPRK p...
Tuntutan 3 Tahun untuk Dua PSK Terkait Pemerasan ASN BPN di Medan
Dua PSK, Fajar dan Junia, dituntut tiga tahun penjara atas pemerasan terhadap ASN BPN Nias, Apriaman Lase, y...