Biogas Perkuat Ketahanan Energi Indonesia dan Kurangi Pencemaran
Asosiasi Biogas Indonesia menilai biogas kini semakin penting bagi ketahanan energi dan pengurangan pencemaran di Indonesia. Pernyataan itu disampaikan Ketua ABgI, Muhammad Abdul Kholiq, yang menekankan peran pengolahan limbah organik menjadi energi terbarukan dalam mencapai target Net Zero Emissions pasca Paris Agreement 2015. Perhatian terhadap biogas meningkat dalam beberapa tahun terakhir, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun industri.
Potensi dan pemanfaatan
Biogas diproduksi dari limbah organik seperti kotoran ternak, limbah pabrik kelapa sawit (POME), serta limbah pabrik tapioka. Pada skala kecil, digester menyuplai gas untuk kompor rumah tangga. Di skala industri, biogas dapat menggantikan gas alam atau batu bara untuk pembangkit listrik, co-firing, dan produksi BioCNG.
Proses pembuatan BioCNG melibatkan pemisahan karbon dioksida sehingga dihasilkan biomethane dengan karakteristik mirip gas alam. Karena komponen utamanya adalah metana, biomethane dapat memanfaatkan infrastruktur distribusi gas yang sudah ada.
Data ketersediaan bahan baku
Indonesia memiliki potensi bahan baku melimpah dari sektor sawit, tapioka, pertanian, peternakan, dan sampah organik kota. Namun pemanfaatannya masih terbatas. Saat ini terdapat sekitar 1.000 pabrik kelapa sawit beroperasi, namun hanya sekitar 10 persen atau kurang yang sudah memasang instalasi biogas.
Contoh internasional dan pelajaran
Beberapa negara Asia dan Eropa sudah mengembangkan biogas secara luas. China, India, dan Nepal sukses menyebarkan digester skala kecil. Di Eropa, Jerman, Austria, dan Belanda mengembangkan biogas industri untuk listrik dan bahan bakar.
"Kita boleh bangga telah membangun 45-50 ribuan digester biogas. Namun India menargetkan pembangunan 60 ribuan digester biogas dalam satu tahun,"
Menurut Kholiq, di Jerman bahan baku biogas begitu diminati sehingga ada praktik menanam jagung untuk stok bahan baku reaktor.
Tantangan pengembangan
Pengembangan biogas di Indonesia menghadapi beberapa hambatan. Fokus pelaku industri sawit masih pada produksi minyak, lokasi pabrik jauh dari jaringan listrik, serta keterbatasan operator dan kemampuan SDM dalam mengelola instalasi biogas.
"Teknologi biogas adalah bentuk pengolahan limbah organik yang paling efektif dan efisien,"
Upaya dan prospek
Asosiasi Biogas Indonesia bersama mitra aktif menyosialisasikan teknologi biogas untuk memperluas pemahaman dan praktik penerapan. Kholiq menegaskan perlunya penguatan ekosistem dan sinergi antarpihak: pemerintah, industri, lembaga pembiayaan, akademisi, peneliti, dan media.
"Untuk pengembangan biogas di Indonesia perlu penguatan ekosistem dan sinergi antar pihak,"
Dengan permintaan sertifikasi lingkungan yang meningkat dan target iklim global, biogas berpeluang besar berkembang. Realisasi skala massal akan bergantung pada kebijakan insentif, peningkatan SDM, dan investasi infrastruktur.
Berita Terkait
IHSG Melemah 0,73% ke 6.127,32 pada Jeda Siang
IHSG turun 0,73% ke 6.127,32 pada jeda siang 19 Juni 2026, dipengaruhi geopolitik, sinyal hawkish The Fed, d...
Rupiah Terus Melemah, Sentuh Rp17.805 per Dolar AS
Rupiah melemah ke Rp17.805 per USD pada 19 Juni 2026, terdorong penguatan dolar akibat prospek kenaikan suku...
Pelaku E-Commerce Wajib Punya NIB, Kemendag Beri Masa Transisi
Kemendag mewajibkan NIB bagi penjual e-commerce lewat Permendag 19/2026; ada masa transisi 18 bulan untuk pe...
Kemenperin Gelar IFI 2026 Perkuat Produk Antara Pangan Lokal
Kemenperin buka IFI 2026 untuk menguatkan produk antara pangan lokal, meningkatkan nilai tambah IKM, dan mem...
Harga Emas Pegadaian: Galeri24 Stagnan, UBS Turun 19 Juni 2026
Galeri24 stagnan di Rp2.703.000/gram, UBS turun menjadi Rp2.668.000/gram pada Jumat, 19 Juni 2026. Simak rin...
MSCI Soroti Transparansi Saham, Indonesia Tetap Emerging Market
MSCI soroti transparansi kepemilikan dan perdagangan terkoordinasi, namun mempertahankan Indonesia sebagai E...