Bahasa Daerah Terancam, KSBN Ajak Masyarakat Pelihara Warisan Budaya
Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) mendesak pelestarian bahasa daerah setelah mengingatkan ancaman punah terhadap banyak bahasa lokal di Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Umum KSBN Mayjen TNI (Purn) Hendardji Soepandji dalam wawancara di Jakarta, Rabu, 10 Juni 2026. Ia menekankan perlunya langkah bersama untuk mempertahankan identitas budaya lokal.
Kondisi bahasa daerah saat ini
Hendardji menyebut Indonesia memiliki sekitar 800 bahasa daerah. Jumlah itu menjadi kekayaan budaya yang harus dipertahankan melalui penggunaan aktif oleh masyarakat.
Menurutnya, jika bahasa lokal ditinggalkan, maka nilai budaya dan identitas komunitas akan luntur. Oleh karena itu, ia menyerukan tindakan segera untuk menjaga keberlanjutan bahasa-bahasa tersebut.
Seruan tanggung jawab bersama
KSBN menilai pelestarian bahasa bukan hanya tugas pemerintah. Organisasi budaya dan masyarakat harus terlibat aktif menjaga penggunaan bahasa sehari-hari.
"Bahasa daerah harus terus digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Jika ditinggalkan, kita sendiri yang akan merugi,"
Hendardji juga mengingatkan pentingnya mempromosikan budaya secara aktif agar tidak mudah diklaim pihak lain. Ia mengajak masyarakat untuk menjadi inisiator dalam memperkenalkan kebudayaan lokal ke publik lebih luas.
"Kita harus proaktif memperkenalkan budaya sendiri kepada dunia. Jangan hanya bereaksi ketika budaya diklaim pihak lain,"
Langkah KSBN ke depan
KSBN berencana menggencarkan program untuk menghidupkan kembali bahasa lokal di tingkat daerah. Kegiatan ini termasuk mendorong penggunaan bahasa daerah di sekolah, acara komunitas, dan media lokal.
Organisasi juga akan bekerja sama dengan pemerintah daerah dan kelompok adat untuk menyusun strategi pelestarian yang lebih sistematis. Fokusnya pada penerusan bahasa ke generasi muda agar penutur tidak terus menyusut.
Kekhawatiran dari masyarakat
Salah satu pendengar dari Kutai Barat, Haryanto, menyatakan kekhawatirannya terhadap penurunan jumlah penutur bahasa daerah. Ia menilai beberapa bahasa lokal kini mendekati ambang kepunahan.
"Saya prihatin karena penutur bahasa daerah semakin sedikit. Beberapa bahasa bahkan terancam punah,"
Selain upaya pelestarian formal, para narasumber mendorong inisiatif lokal seperti festival budaya, bahan ajar berbahasa daerah, dan program mentor antar-generasi. Langkah-langkah ini diharapkan dapat memperlambat atau membalikkan tren kehilangan penutur.
Pelestarian bahasa daerah menjadi bagian dari strategi menjaga identitas nasional. Jika berhasil, upaya itu tidak hanya menyelamatkan bahasa, tetapi juga memperkaya keragaman budaya Indonesia yang unik.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Dua Anak Muda Bali Juara Putra Putri Batik Nusantara 2026
Kadek Wijaya dan Putu Paramitha terpilih Grand Winner PPBN 2026 di Cibubur; diharapkan menguatkan peran gene...
Cerdas Cermat Jagat Satwa Nusantara 2026 Dibuka, Pendaftaran 28 Sep–10 Okt
Pendaftaran Cerdas Cermat Jagat Satwa Nusantara 2026 dibuka 28 Sep–10 Okt untuk siswa kelas V–VI SD/MI; 36 s...
Kemenkes: Deteksi H3N2 'Superflu' Lebih Rendah pada 2026
Kemenkes: meski influenza meningkat, deteksi H3N2 subclade K ('superflu') lebih rendah pada 2026 dibanding 2...
Merah Putih Bertanya: 750 Aktor Reenaksi Insiden Hotel Yamato
750 aktor menampilkan kembali insiden Hotel Yamato pada Sabtu, merekonstruksi penurunan dan pengoyakan bende...
Kementerian Kebudayaan Gelar Pentas KILA 2026 untuk Bangkitkan Lagu Anak
Kementerian Kebudayaan menggelar Pentas KILA 2026 di Jakarta untuk menghidupkan kembali lagu anak dan mengem...
Perpustakaan Danantara Resmi Dibuka di Museum Nasional
Perpustakaan Danantara resmi dibuka 25 September 2026 di Museum Nasional; koleksi langka bisa dibaca gratis...