Nasional

Pengamat: B50 Perkuat Ketahanan Energi dan Kurangi Impor BBM

Bagikan:
Ilustrasi pengisian bahan bakar biodiesel B50 di stasiun pengisian

Pengamat energi Feiral Rizky Batubara menilai kebijakan peningkatan kandungan biodiesel menjadi B50 memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak. Pernyataan itu disampaikan dalam keterangan pers di Jakarta, Minggu, 12 Juli 2026. Menurut Feiral, langkah ini juga mendorong pemanfaatan energi domestik secara lebih berkelanjutan.

B50 dan dampak makro energi

Feiral mengatakan peningkatan porsi biodiesel ke 50 persen datang pada saat yang tepat. Dunia masih menghadapi ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga minyak, sehingga pasokan energi domestik perlu diperkuat. Kebijakan tersebut, menurutnya, menekan penggunaan solar fosil, menghemat devisa, dan memperbaiki neraca perdagangan.

“Peningkatan kandungan biodiesel hingga 50 persen memperbesar pemanfaatan energi domestik. Pasokan energi nasional menjadi lebih tangguh menghadapi gejolak global,”

Tantangan infrastruktur dan rantai pasok

Feiral menekankan bahwa keberhasilan implementasi B50 bergantung pada kesiapan infrastruktur dan rantai pasok. Pertamina dan pemangku kepentingan dituntut memastikan kapasitas distribusi, fasilitas pencampuran (blending), serta penyimpanan berjalan optimal untuk mencegah hambatan pasokan.

Selain infrastruktur fisik, pengendalian mutu di titik distribusi juga menjadi kunci agar produk B50 memenuhi standar teknis dan tidak merugikan pengguna akhir.

Uji teknis dan edukasi masyarakat

Menurut Feiral, pengujian teknis pada berbagai jenis kendaraan harus terus diperluas agar dampak pemakaian B50 dapat dipetakan dengan jelas. Uji ini penting untuk menjamin kompatibilitas mesin dan mengidentifikasi kebutuhan penyesuaian teknis.

“Pengujian teknis pada berbagai jenis kendaraan harus terus diperluas. Edukasi masyarakat penting untuk meningkatkan kepercayaan terhadap penggunaan B50,”

Sinergi Pemerintah, Pertamina, dan industri sawit

Feiral menilai sinergi antar-pihak menjadi penentu keberlanjutan kebijakan. Pemerintah diminta menjaga konsistensi regulasi jangka panjang, sementara industri sawit dan Pertamina perlu berkoordinasi untuk memastikan suplai dan kualitas bahan baku.

“Implementasi B50 menjadi fondasi menuju kemandirian energi nasional. Pengalaman Pertamina menjadi modal Indonesia memimpin pengembangan biofuel dunia,”

Dengan langkah ini, Indonesia berpotensi memperkuat posisi di sektor biofuel sekaligus mengurangi beban impor BBM. Ke depan, perhatian pada infrastruktur, pengujian teknis, dan komunikasi publik akan menentukan seberapa cepat manfaat B50 dirasakan secara luas.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait