Nasional

Awal Upwelling Terdeteksi di Sejumlah Perairan Indonesia

Bagikan:
Massa air kaya nutrien terangkat ke permukaan (upwelling) meningkatkan produktivitas laut

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendeteksi fase awal upwelling di beberapa perairan Indonesia pada awal Juni 2026. Fenomena ini berpotensi meningkatkan produktivitas laut dan menunjang hasil tangkapan ikan. Sinyal terdeteksi terutama di selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Laut Sawu, dan Laut Timor, meski intensitas masih tergolong lemah hingga sedang.

Wilayah yang menunjukkan sinyal upwelling

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Widodo Setiyo Pranowo, menyebutkan periode pengamatan 1–7 Juni 2026 menunjukkan tanda awal aktivitas upwelling. Selain koridor selatan, indikasi peningkatan produktivitas juga terlihat di Laut Banda bagian selatan dan tenggara, Laut Arafura, perairan barat Sumatra sampai Laut Andaman, serta selatan Selat Makassar menuju Laut Flores.

Daerah-daerah yang teridentifikasi:

  • Samudera Hindia selatan Jawa, Bali, Nusa Tenggara
  • Laut Sawu dan Laut Timor
  • Laut Banda (bagian selatan dan tenggara)
  • Laut Arafura
  • Perairan barat Sumatra hingga Laut Andaman
  • Selatan Selat Makassar hingga Laut Flores

Tanda-tanda dan penyebab

Indikasi upwelling ditandai oleh penurunan suhu permukaan laut, peningkatan salinitas, arus vertikal ke atas, serta kenaikan konsentrasi klorofil. Kondisi ini mengindikasikan pengangkatan massa air kaya nutrien dari lapisan dalam menuju permukaan.

Widodo menjelaskan bahwa tidak semua peningkatan produktivitas di wilayah tersebut disebabkan oleh proses upwelling pantai klasik. Faktor lain seperti pencampuran massa air, pusaran arus, pengaruh pasang surut, dan interaksi arus laut turut berperan.

Dampak terhadap ekosistem dan perikanan

Upwelling berperan penting dalam meningkatkan ketersediaan nutrien bagi fitoplankton, dasar rantai makanan laut. Oleh karena itu, wilayah yang mengalami upwelling biasanya menunjukkan produktivitas perairan lebih tinggi dan potensi hasil tangkapan yang meningkat.

Di Laut Arafura, misalnya, BRIN memperkirakan peningkatan produktivitas lebih banyak dipengaruhi oleh pencampuran massa air akibat angin dan pasang surut. Sementara di perairan barat Sumatra hingga Laut Andaman, interaksi front oseanografi dan pengaruh massa air dari Teluk Benggala dianggap sebagai faktor utama.

Pemantauan dan prospek ke depan

Berdasarkan analisis, awal Juni 2026 dikategorikan sebagai onset upwelling musim timur 2026. BRIN memperingatkan bahwa aktivitas fenomena ini masih berkembang dan perlu pengamatan lanjutan hingga Juli dan Agustus.

Pemantauan berkelanjutan diperlukan untuk mengetahui potensi penguatan fenomena tersebut. Informasi mengenai perkembangan upwelling juga penting untuk mendukung pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan yang lebih adaptif dan berkelanjutan.

Pemantauan tersebut diperlukan agar otoritas kelautan dan pelaku perikanan dapat menyesuaikan strategi pengelolaan sumber daya. Perkembangan fenomena upwelling akan menentukan langkah adaptif berikutnya bagi pengelolaan dan pemanfaatan potensi perikanan.

Informasi lebih lanjut dan data teknis pemantauan dapat diakses melalui laman resmi institusi terkait: https://brin.go.id.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait