Nasional

Asal-Usul Lomba 17 Agustus: Warisan Kolonial dan Makna Baru

Bagikan:

Perayaan 17 Agustus tak lengkap tanpa lomba tradisional. Pada 17 Agustus 2026, saat bangsa merayakan HUT ke-81 RI, tradisi lomba seperti balap karung, panjat pinang, dan tarik tambang kembali digelar di lingkungan warga, sekolah, dan instansi. Sejarahnya berakar dari praktik masyarakat pasca-Proklamasi sekaligus memiliki jejak masa kolonial Belanda dan pendudukan Jepang.

Awal tradisi perlombaan

Menurut catatan Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Bisnis dan Pariwisata (BBPPMPVBISPAR) Kemendikdasmen, perkembangan lomba sebagai bagian perayaan kemerdekaan diperkirakan mulai menguat sekitar tahun 1950. Pada dekade itu, masyarakat Indonesia mencari cara sederhana dan murah untuk memeriahkan hari kemerdekaan, sehingga permainan sehari-hari diubah menjadi lomba.

Keterbatasan fasilitas mendorong penggunaan benda-benda sederhana dari lingkungan setempat. Dari situ, permainan individu dan kelompok lalu disusun menjadi kompetisi yang menyatukan warga.

Jejak kolonial dan pendudukan

Beberapa sejarawan mencatat bahwa bentuk-bentuk perlombaan yang dikenal saat ini memiliki akar lebih tua. Bukti visual dari masa kolonial menunjukkan keberadaan aktivitas seperti panjat pinang, sedangkan periode pendudukan Jepang juga meninggalkan permainan fisik yang kemudian diadaptasi masyarakat.

“Perlombaan yang ada sampai sekarang merupakan comotan dari Belanda dan Jepang. Saat menjajah negara ini.”

Menurut penjelasan tersebut, aktivitas hiburan pada masa penjajahan kemudian diterima ulang oleh masyarakat merdeka dan diberi makna baru sebagai bagian perayaan nasional.

Jenis perlombaan yang umum

Lomba-lomba yang rutin muncul dalam perayaan 17 Agustus biasanya berasal dari permainan sederhana. Jenis yang sering dijumpai antara lain:

  • Balap karung
  • Panjat pinang
  • Tarik tambang
  • Makan kerupuk

Seiring waktu, variasi lomba bertambah sesuai kreativitas masyarakat di tiap daerah.

Makna sosial dan kultural

Sejarawan Heri Priyatmoko memandang lomba Agustusan bukan sekadar hiburan. Dalam bukunya, kegiatan ini dianggap bagian dari ingatan kolektif—cara praktis masyarakat menghidupkan memori perjalanan kemerdekaan melalui aktivitas bersama.

Dengan demikian, permainan yang mungkin bermula dari konteks kolonial berubah fungsi menjadi lambang solidaritas, gotong royong, dan identitas kebangsaan.

Di masa mendatang, tradisi lomba 17 Agustus berpotensi terus berkembang. Masyarakat akan terus menyesuaikan bentuk dan makna lomba sesuai pengalaman lokal, sambil mempertahankan peranannya sebagai perekat sosial.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait