Ekonomi

Angkutan Perkebunan KAI Naik 18% Jadi 374.098 Ton

Bagikan:
Kereta KAI mengangkut minyak sawit untuk distribusi ke fasilitas pengolahan

PT Kereta Api Indonesia (KAI) mencatat volume angkutan perkebunan sebesar 374.098 ton sepanjang tujuh bulan hingga akhir Juli 2026, naik 18 persen dibanding periode sama tahun lalu. Data operasional itu dirilis di Jakarta pada 4 Agustus 2026. Kenaikan didorong permintaan minyak sawit untuk industri dan program biodiesel B50.

Hasil operasional dan pertumbuhan bulanan

Pertambahan total mencapai 57.072 ton hingga akhir Juli 2026. Khusus pada Juli, volume tercatat 51.741 ton, tumbuh 24,52 persen dari Juli tahun sebelumnya, atau bertambah 10.190 ton.

Komoditas utama: CPO

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menyatakan komoditas utama angkutan adalah CPO atau minyak kelapa sawit. KAI mengoperasikan layanan pengangkutan CPO untuk memastikan kelancaran distribusi menuju fasilitas pengolahan.

Peningkatan sebesar 18 persen menunjukkan kebutuhan terhadap layanan logistik perkebunan berbasis kereta api semakin kuat. KAI menjaga kelancaran distribusi CPO sebagai bahan baku berbagai industri, termasuk industri bioenergi yang kini memiliki peran strategis dalam kebijakan ketahanan energi nasional, ujar Anne.

Hubungan dengan program B50

Pemerintah menerapkan Program Mandatori B50 sejak 1 Juli 2026, yang mengharuskan campuran 50 persen biodiesel pada solar. Program ini diluncurkan Presiden pada 9 Juli 2026 dan diproyeksikan meningkatkan kebutuhan biodiesel nasional hingga 18 juta kiloliter.

Proyeksi dampak B50 mencakup penghematan devisa hingga Rp170 triliun, penyerapan tenaga kerja sekitar 2,1 juta orang, serta potensi pengurangan emisi CO2 sebesar 44,46 juta ton, menurut data yang dirilis pemerintah.

Peran KAI dalam rantai pasok dan penggunaan B50

Anne menjelaskan penerapan B50 telah dimulai secara bertahap pada sarana diesel sejak 1 Juli 2026. Implementasi mencakup lokomotif dan kereta pembangkit setelah melalui pengujian performa mesin.

KAI memiliki peran pada dua bagian penting dalam ekosistem B50. Melalui layanan angkutan perkebunan, KAI membantu kelancaran distribusi komoditas sawit. Pada kegiatan operasional, KAI menggunakan B50 secara bertahap pada lokomotif dan kereta pembangkit dengan tetap mengutamakan keselamatan serta keandalan sarana, ucap Anne.

Komitmen penguatan layanan

Executive Vice President Corporate Secretary KAI Wisnu Pramudya menegaskan perusahaan memperkuat kapasitas layanan, termasuk kesiapan sarana, fasilitas bongkar muat, dan koordinasi dengan pemangku kepentingan. Penguatan itu dimaksudkan untuk mendukung hilirisasi sawit dan kemandirian energi.

Kereta api menghubungkan kegiatan produksi, pengolahan, dan kebutuhan energi nasional. Pertumbuhan volume angkutan perkebunan menjadi peluang untuk memperkuat peran logistik perkeretaapian dalam mendukung hilirisasi sawit serta kemandirian energi Indonesia, kata Wisnu.

Proyeksi produksi global

Laporan United States Department of Agriculture memproyeksikan produksi minyak sawit dunia mencapai 81,44 juta ton, dengan Indonesia menghasilkan sekitar 47,5 juta ton atau 58,3 persen dari total global. Angka ini memperkuat posisi domestik dan peran KAI dalam distribusi bahan baku.

Peningkatan volume angkutan perkebunan oleh KAI mencerminkan adaptasi logistik terhadap kebutuhan industri dan kebijakan energi nasional, sekaligus membuka peluang perluasan pasar domestik bagi produsen sawit.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait