Akumindo Minta Publik Tenang Soal Temuan Pajak QRIS
Jakarta — Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) meminta publik tidak berlebihan menanggapi temuan lembaga internasional yang menyebut sebagian pelaku usaha membatasi penggunaan QRIS karena alasan perpajakan. Pernyataan itu disampaikan Sekjen Akumindo Edy Misero saat berbincang pada Selasa, 4 Agustus 2026.
Inti respons Akumindo
Akumindo memandang laporan tersebut sebagai masukan konstruktif bagi pemerintah, bukan pemicu kegaduhan publik. Organisasi itu menegaskan setiap pelaku usaha, termasuk pelaku UMKM, memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kewajiban perpajakan demi menopang operasional negara.
"Jadi untuk memperbaiki ekosistem digital dan perpajakan, bukan menjadi pemicu kegaduhan. Setiap pengusaha, termasuk pelaku UMKM, memiliki tanggung jawab untuk ikut menopang operasional negara melalui kewajiban perpajakan,"
Pesan agar tidak membangun narasi negatif
Edy Misero mengimbau masyarakat agar tidak membangun narasi yang menimbulkan kesalahpahaman terhadap pelaku UMKM. Ia menilai semangat laporan internasional lebih bersifat pengingat agar kebijakan dan ekosistem usaha terus diperbaiki.
"Jangan membuat sesuatu menjadi gaduh. Semangatnya adalah mengingatkan Indonesia agar terus melakukan perbaikan,"
Dorongan untuk penguatan digitalisasi dan edukasi
Akumindo berharap pemerintah memperkuat program digitalisasi serta memperluas penyebaran informasi kepada pelaku UMKM. Menurut asosiasi, edukasi yang memadai dapat meningkatkan kenyamanan pelaku usaha dalam memanfaatkan sistem pembayaran digital seperti QRIS.
"Kita harus terus menggenjot informasi digital agar hadir di tengah pelaku UMKM. Dengan begitu, pelaku UMKM merasa nyaman menggunakan layanan digital sekaligus menjalankan usahanya,"
Dampak dan langkah ke depan
Jika pemerintah menggunakan temuan tersebut sebagai dasar evaluasi, peluang perbaikan kebijakan fiskal dan dukungan digital kepada UMKM terbuka lebar. Pendekatan yang seimbang antara penegakan pajak dan program edukasi di lapangan dinilai penting agar adopsi pembayaran digital tidak terhambat karena kekhawatiran perpajakan.
Kesimpulannya, Akumindo mengajak publik melihat temuan lembaga internasional sebagai masukan yang konstruktif. Pendekatan tenang, dialog antara pemangku kepentingan, dan peningkatan edukasi di tingkat UMKM menjadi kunci agar digitalisasi usaha berjalan lancar tanpa menimbulkan kegaduhan.
Analis bisnis yang mengulas perkembangan industri, korporasi, dan peluang investasi.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...