Nasional

Wihaji Soroti 3 Ancaman Remaja: Seks Pranikah, Pernikahan Dini, Napza

Bagikan:
Ilustrasi Duta GenRe menyosialisasikan pencegahan pernikahan dini dan penyalahgunaan napza

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Wihaji, menyoroti tiga isu utama yang mengancam masa depan remaja Indonesia: seks pranikah, pernikahan dini, dan penyalahgunaan narkotika, psikotropika, serta zat adiktif (napza). Pernyataan itu disampaikan usai rangkaian acara ADUJAKNAS 2026 di Jakarta, Selasa, 22 September 2026, ketika Wihaji menekankan peran Duta Generasi Berencana dalam pencegahan masalah tersebut.

Ancaman utama dan target usia

Menurut Wihaji, perhatian difokuskan pada remaja berusia 10–24 tahun. Ketiga isu itu menjadi materi edukasi yang disampaikan oleh Duta GenRe kepada kelompok usia tersebut di berbagai lapangan dan kegiatan.

Inilah yang setiap hari mereka kampanyekan tiga hal yang berkenaan dengan isu-isu generasi berencana. Karena di luar ada program-program kementerian yang mereka paling depan untuk program-program yang berkenaan dengan remaja

Peran Duta GenRe dan pesan sebaya

Wihaji menilai Duta GenRe memiliki posisi strategis sebagai penggerak kampanye pencegahan. Pesan yang datang dari teman sebaya dianggap lebih mudah dipercaya oleh remaja. Hal ini disebutkan pula oleh Irma Ardiana, Direktur Bina Ketahanan Remaja Kemendukbangga, yang menilai peran teman sebaya sangat krusial dalam menyampaikan pesan kesehatan dan pencegahan risiko.

Fokus pada perubahan perilaku, bukan sekadar data

Wihaji menegaskan bahwa upaya pencegahan tidak cukup dilihat dari angka atau persentase kasus. Yang lebih penting adalah bagaimana menggerakkan dan mengubah perilaku remaja agar terhindar dari risiko seks pranikah, pernikahan dini, dan penggunaan napza.

Tantangan keberlanjutan program PIK-R

Program GenRe dirancang "dari, oleh, dan untuk remaja" melalui berbagai kegiatan inovatif. Namun Irma mengingatkan bahwa inovasi harus menghasilkan dampak terukur. Salah satu tantangan utama adalah keberlanjutan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), karena regenerasi anggota berlangsung cepat.

  • Anggota PIK-R berganti setiap sekitar dua tahun seiring perpindahan jenjang pendidikan.
  • Perpindahan ini mengancam kontinuitas pendampingan dan pelaksanaan program.
  • Perlu strategi pengaktifan kembali dan pembinaan berkelanjutan agar PIK-R tetap efektif.

Wihaji dan jajaran kementerian mendorong agar program GenRe dan PIK-R terus menerima pembinaan dan dukungan, sehingga pencegahan seks pranikah, pernikahan dini, dan penyalahgunaan napza bisa berdampak jangka panjang pada kualitas hidup remaja.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait