Wihaji: Banjir Informasi Digital Bisa Ganggu Kesehatan Mental Remaja
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji mengingatkan remaja untuk berhati-hati menghadapi derasnya arus informasi digital. Pernyataan itu disampaikan usai acara ADUJAKNAS 2026 di Jakarta, Selasa, 22 September 2026. Menurut Wihaji, paparan informasi yang terus-menerus lewat gadget dapat memengaruhi algoritma, pola pikir, dan perilaku remaja.
Ancaman informasi yang diulang-ulang
Wihaji menekankan bahwa tidak semua konten di dunia digital benar. Informasi yang salah tapi terus diulang punya potensi menjadi dipandang sebagai kebenaran. Karena itu, remaja perlu kemampuan memilah informasi yang mereka terima melalui perangkat digital.
"Hari ini mesti hati-hati bagaimana gadget yang mungkin sangat tinggi pengaruhnya terhadap algoritma. Ini yang benar, yang asli yang mana? Kadang-kadang tidak benar, tapi diulang-ulang setiap hari, menjadi kebenaran,"
Dampak pada kesehatan mental
Wihaji tidak menolak teknologi, namun ia mengingatkan pentingnya penggunaan gadget secara bijak. Paparan informasi terus-menerus dapat memberi tekanan dan memengaruhi kesejahteraan mental remaja. Ia menambahkan bahwa informasi kini bisa datang dari mana saja, kapan saja, dan mengenai apa saja.
"Karena hari ini informasi dari mana saja, kapan saja, tentang isu apa saja,"
Peran algoritma dan literasi digital
Direktur Bina Ketahanan Remaja, Irma Ardiana, menyatakan remaja kerap menghabiskan waktu sekitar enam jam sehari untuk scrolling. Waktu panjang ini membuat mereka dekat dengan konten yang dipilih oleh algoritma platform digital.
Irma menilai rendahnya literasi digital membuat remaja rentan menerima informasi tanpa menilai kebenarannya terlebih dahulu. Kondisi ini menjadi perhatian karena bagian otak yang mengatur pengambilan keputusan masih berkembang hingga usia 20–25 tahun.
Kenapa penguatan literasi penting
Karena perkembangan kognitif belum sepenuhnya matang, remaja berisiko menyerap narasi yang dibentuk oleh algoritma. Oleh sebab itu, Irma menekankan pentingnya penguatan literasi digital agar remaja tidak mudah terbawa arus informasi di ruang digital.
Kesimpulan
Peringatan Wihaji dan temuan dari Direktorat Bina Ketahanan Remaja menegaskan satu hal: perlindungan terhadap kesehatan mental remaja perlu memasukkan aspek literasi digital. Penggunaan gadget secara bijak dan kemampuan menilai informasi menjadi kunci untuk mengurangi risiko dampak negatif algoritma dan hoaks pada perkembangan remaja.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Banjir Bandang Solok: 1 Meninggal, 1 Masih Dicari
Banjir bandang di Nagari Batang Barus, Solok (21 Sept 2026) menewaskan satu orang; satu korban masih dalam p...
Bapanas Tekankan Keseimbangan Harga Pangan untuk Produsen
Bapanas minta keseimbangan harga pangan agar stabilisasi inflasi tak mengorbankan petani dan peternak; beber...
Bapanas: Tantangan Pangan Kini pada Distribusi Antarwilayah
Bapanas: ketersediaan pangan aman hingga akhir 2026; masalah utama adalah distribusi dan keseimbangan pasoka...
Veronica Tan Perkuat Layanan Korban Kekerasan Perempuan dan Anak
Veronica Tan dorong layanan satu pintu bagi korban kekerasan perempuan dan anak, menekankan perlunya sinergi...
Kementerian PU Gelar OMC Perkuat Tampungan Tiga Waduk
Kementerian PU menggelar OMC 18–22 September 2026 untuk memperkuat tampungan Waduk Saguling, Cirata, dan Jat...
PKB Soroti Penguatan Fungsi Sosial Tanah lewat RUU Reforma Agraria
Muhammad Khozin (Baleg) dorong RUU Reforma Agraria untuk perkuat fungsi sosial tanah, satukan data, dan lind...