Teknologi

BRIN Verifikasi Tumpahan Batu Bara di Perairan Jepara

Bagikan:
Tim BRIN dan mitra melakukan verifikasi tumpahan batu bara di perairan Mororejo, Jepara

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ikut dalam survei verifikasi lapangan dugaan pencemaran akibat tumpahan batu bara dari tongkang BG Santoso 6 di perairan Mororejo, Kabupaten Jepara. Kegiatan berlangsung pada 28 Juli–1 Agustus 2026 dan dikoordinasikan oleh Direktorat Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup (PSLH).

Tim, peran, dan tujuan verifikasi

Survei melibatkan BRIN bersama Deputi Bidang Penegakan Hukum Lingkungan Hidup Kementerian Lingkungan Hidup, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Jepara, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah, pihak P&I Insurance, serta akademisi dan profesional. BRIN menurunkan dua peneliti utama untuk memberi dukungan ilmiah dan teknis.

Penelitian difokuskan untuk mengidentifikasi pola sebaran material batu bara dan mengevaluasi kondisi lingkungan perairan yang terdampak. Hasilnya digunakan sebagai dasar rekomendasi penanganan dan pengambilan sampel di lapangan.

Metode pemodelan hidrodinamika

Widodo Setiyo Pranowo dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) memimpin pemodelan hidro-oseanografi. Pemodelan mengintegrasikan data batimetri, arus, angin, pasang surut, dan gelombang laut untuk memperkirakan arah dan luas sebaran serpihan batu bara.

Berdasarkan pemodelan, tim menentukan titik-titik stasiun untuk sampling, pengukuran arus, hingga lokasi penyelaman. Hal ini membuat survei lapangan lebih efektif dan tertarget.

"Kami memanfaatkan pemodelan hidrodinamika untuk memprediksi arah dan luas sebaran serpihan batu bara berdasarkan kondisi arus, pasang surut, gelombang, angin, serta batimetri perairan. Hasil prediksi ini menjadi dasar penentuan titik-titik sampling. Sehingga, survei lapangan dapat dilakukan secara lebih efektif, efisien, dan tepat sasaran," jelas Widodo.

Temuan hidro-oseanografi dan kondisi lokasi

Analisis menunjukkan lokasi kandas tongkang berada di perairan dangkal dengan kedalaman sekitar 1,5–2 meter. Kawasan ini memiliki gosong serta substrat berupa pasir, pecahan karang, campuran terumbu karang dan alga, juga batu (stone) dan lumpur (mud).

Informasi peta e-navigasi Pushidrosal TNI AL dan data Allen Coral Atlas menjadi bagian penting untuk memahami dinamika dasar laut dan potensi sebaran material. Pemodelan gelombang dan citra satelit menunjukkan gelombang dominan datang dari arah utara hingga timur laut.

Pengambilan sampel dan analisis kualitas lingkungan

Muhammad Reza Cordova dari Pusat Riset Oseanologi (PRO) memimpin pengambilan sampel air, sedimen, dan bentos untuk mendeteksi keberadaan batu bara dan tingkat pencemaran. Sampel dianalisis dan dibandingkan dengan baku mutu lingkungan sebagai dasar penilaian kondisi ekosistem.

"Analisis terhadap sampel air, sedimen, dan bentos diperlukan untuk mengetahui tingkat pencemaran serta membandingkannya dengan baku mutu lingkungan. Hasil analisis tersebut menjadi dasar ilmiah dalam menilai kondisi ekosistem perairan pascakejadian," ujar Reza.

Langkah selanjutnya dan implikasi

Hasil pemodelan dan analisis laboratorium menjadi acuan tim verifikasi untuk prioritas lokasi terdampak dan strategi mitigasi. Data ini juga penting bagi otoritas lokal dan nasional dalam merancang tindakan pemulihan lingkungan dan pencegahan risiko keselamatan pelayaran.

Proses verifikasi lapangan akan dilanjutkan dengan pemantauan berkelanjutan hingga kondisi perairan memenuhi standar lingkungan.

Naufal Hakim
Penulis
Naufal Hakim

Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.

Berita Terkait