UMKM Difabel Berkembang: Difa Danusantara dan Kedaibilitas
Usaha mikro yang dikelola penyandang disabilitas semakin menunjukkan kemajuan di Indonesia. Dua pelaku usaha, Difa Danusantara dan Kedaibilitas, membuktikan keterbatasan fisik bukan penghalang untuk berwirausaha. Kisah ini terungkap dalam perbincangan, Sabtu, 6 Juni 2026, yang menyorot strategi, tantangan, dan dukungan lokal untuk memberdayakan difabel.
UMKM Difa Danusantara: Mandiri sejak pandemi
Iin Nurjanah mendirikan usaha yang dikenal di media sosial sebagai Danusantara Food. Namun secara resmi brand yang dijalankan adalah "Difa Danusantara", sebuah UMKM yang digerakkan oleh para difabel. Usaha ini berdiri sejak awal masa pandemi dengan tujuan utama memberikan kemandirian ekonomi dan personal bagi difabel.
Difa Danusantara memproduksi camilan seperti basreng dan olahan pisang. Selain memproduksi sendiri, Iin membuka peluang bagi rekan difabel untuk menitipkan produk mereka di platform usahanya. Ia membantu proses packaging dan kebutuhan lain agar produk siap dijual.
"Kalau untuk sosial medianya memang Danusantara Food, tapi untuk nama brand sebenarnya adalah 'Difa Danusantara', karena kami UMKM yang digerakkan para difabel," ujar Iin.
Kedaibilitas Surabaya: dari pendidikan ke pasar kerja
Di Surabaya, Andi Fuad Rachmadi mendirikan Kedaibilitas sejak 2016. Motivasi Andi berakar dari pengamatan saat masih di SMA, ketika peluang kerja untuk difabel sangat terbatas. Ia lalu membangun sebuah kedai yang juga memproduksi donat dan kerajinan tangan.
"Karena saya berpikir, teman-teman ini mau dikemanakan setelah lulus. Karena memang peluang kerja bagi mereka ini kecil pada waktu itu," ujar Andi.
Tujuan Kedaibilitas adalah memberi keterampilan produktif sehingga lulusan pendidikan bisa menghasilkan ekonomi mandiri.
Tantangan utama: aksesibilitas dan pemasaran
Kedua pelaku usaha sepakat, kendala terbesar adalah aksesibilitas dan pemasaran. Iin menyebut hambatan fisik saat ikut bazar mengganggu pemasaran produk. Andi menambahkan, menembus berbagai segmen pasar membutuhkan upaya dan jaringan yang kuat.
Di sisi lain, dukungan kebijakan lokal bisa memberi efek signifikan. Di Surabaya, kebijakan wajib belanja produk UMKM bagi ASN membantu kelangsungan usaha seperti Kedaibilitas.
Pesan untuk difabel dan prospek ke depan
Kedua pengusaha memberi pesan tegas: keterbatasan bukan akhir. Iin mengajak difabel untuk mengeksplorasi kemampuan sehingga menjadi kelebihan. Andi menegaskan keyakinannya bahwa setiap orang memiliki manfaat dan kesempatan.
"Jadi Tuhan itu menciptakan manusia tidak mungkin tidak ada satupun yang tidak ada manfaatnya. Pasti mereka bisa," ujar Andi.
Dengan kombinasi pelatihan keterampilan, kolaborasi antar pelaku difabel, dan dukungan kebijakan, prospek UMKM difabel berpeluang semakin terbuka. Ke depan, fokus pada aksesibilitas fisik dan pemasaran digital akan menjadi kunci untuk memperluas pasar dan meningkatkan pendapatan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
IHSG Dibuka Menguat 0,14% ke 6.018,08, Sentimen Minyak & Inflasi Jadi Perhatian
IHSG dibuka menguat 0,14% ke 6.018,08 pada 2 Oktober 2026; sentimen minyak, inflasi, dan ketegangan geopolit...
Rupiah Menguat Dibuka, Risiko Tekanan dari Kenaikan Harga Minyak
Rupiah dibuka menguat ke Rp17.910 per dolar, namun berisiko melemah karena kenaikan harga minyak dan ketegan...
IHSG Diperkirakan Melemah, Pasar Cermati Laju Inflasi
IHSG diperkirakan melemah dan menguji level 6.000 di tengah aksi jual asing serta kenaikan inflasi September...
DJP Percepat Pemungutan PPh 22 melalui Empat Lokapasar
DJP mempercepat pemungutan PPh Pasal 22 melalui lokapasar mulai 1 Oktober 2026; empat platform ditunjuk dan...
Dua Wamenkeu Dilantik, Kemenkeu Perkuat Pelaksanaan APBN
Luky Alfirman dan Nurkholisoh Ibnu Aman dilantik sebagai Wamenkeu pada 1 Okt 2026 untuk memperkuat pelaksana...
Rupiah Turun ke Rp17.966 di Tengah Ketidakpastian AS–Iran
Rupiah melemah 0,40% ke Rp17.966 per dolar pada 1 Okt 2026, terdorong ketidakpastian AS–Iran dan pergeseran...