Wagub Aceh: Transparansi Kunci Kepercayaan Publik pada Baitul Mal
BANDA ACEH — Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah (Dek Fadh) menekankan pentingnya transparansi dalam pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf oleh Baitul Mal. Pernyataan itu disampaikan saat membuka Rapat Koordinasi Baitul Mal se-Aceh di Aula Hotel Rasamala, Banda Aceh, Rabu (15/7).
Transparansi sebagai kunci penghimpunan
Dek Fadh mengatakan kepercayaan publik menjadi faktor utama untuk meningkatkan penghimpunan dana umat di Aceh. Menurutnya, tata kelola yang terbuka membuat masyarakat lebih yakin menitipkan dana melalui Baitul Mal.
"Dalam pengelolaan zakat, sedekah dan wakaf, transparansi adalah hal yang paling penting. Insya Allah kalau transparan, rakyat pasti percaya kepada Baitul Mal. Ini salah satu kuncinya," kata Dek Fadh.
Ia menegaskan Baitul Mal lahir dari amanat perdamaian Aceh melalui MoU Helsinki, sehingga harus menunjukkan pengelolaan yang profesional dan akuntabel.
Contoh pengelolaan wakaf
Dek Fadh mencontohkan pengelolaan Wakaf Baitul Asyi di Arab Saudi. Ia memuji konsistensi nazir dalam menyalurkan manfaat wakaf sesuai ikrar awal.
"Walaupun pernah ada keinginan agar hasil wakaf itu bisa dialihkan untuk seluruh masyarakat Indonesia, tetapi tidak bisa karena dalam ikrar wakaf sudah sangat jelas diperuntukkan bagi masyarakat Aceh. Nazirnya tetap teguh menjalankan amanah tersebut," ujarnya.
Usulan zakat sebagai pengurang pajak
Selain mendorong transparansi, Pemerintah Aceh mengusulkan agar zakat diakui sebagai tax deduction dalam revisi Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UUPA). Dek Fadh berharap langkah ini memacu perusahaan menunaikan kewajiban zakat melalui Baitul Mal.
"Insya Allah usulan ini disetujui. Jika zakat menjadi pengurang pajak, otomatis akan meningkatkan pendapatan Baitul Mal sehingga manfaatnya juga semakin besar untuk masyarakat," kata Dek Fadh.
Tantangan operasional Baitul Mal
Ketua Baitul Mal Aceh, Tgk. Muhammad Yunus, mengatakan Rakor digelar untuk memperkuat komunikasi dan sinergi antara Baitul Mal Aceh dengan Baitul Mal kabupaten dan kota. Ia mencatat sejumlah tantangan serupa di seluruh daerah.
"Masalah yang kita hadapi hampir sama. Bila tidak ada dorongan dari pimpinan daerah, maka program-program Baitul Mal tidak dapat berjalan secara optimal," ujar Muhammad Yunus.
Ia menambahkan bahwa saat ini sumber pendapatan Baitul Mal masih didominasi oleh zakat profesi dari pemotongan gaji ASN. Karena itu, ia berharap Pemerintah Aceh mendorong perusahaan di wilayahnya agar menyalurkan zakat melalui Baitul Mal.
Prospek dan harapan
Rakor diharapkan menjadi momentum memperkuat sinergi antar-Baitul Mal di Aceh. Fokus pada transparansi, pengakuan zakat sebagai pengurang pajak, dan keterlibatan sektor swasta dianggap kunci untuk meningkatkan manfaat dana umat bagi masyarakat Aceh.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Mahasiswa Poltekpar Medan Terbitkan Dua Buku Promosi Desa Sugihen
Mahasiswa Politeknik Pariwisata Medan menerbitkan dua buku untuk memperkenalkan potensi Desa Sugihen dan men...
Kapolres Simeulue Ngopi Bareng Wartawan, Pantau Kasus PT Raja Marga
Kapolres Simeulue ngopi bareng wartawan di Sinabang (6/11) dan berjanji memantau serta menindaklanjuti dugaa...
Bupati Resmikan Kantor Camat Pulau-Pulau Batu Barat di Pulau Sigata
Bupati Nias Selatan meresmikan Gedung Kantor Camat Pulau-Pulau Batu Barat di Desa Sigese, Pulau Sigata untuk...
Doli Bantah Terlibat Selebaran Munaslub Golkar 29 Nov 2026
Ahmad Doli membantah terlibat selebaran yang mengklaim Munaslub Golkar pada 29 November 2026 dan menegaskan...
Pangdam IM Jelaskan Kronologi Bentrokan Penertiban Bendera di Pidie
Pangdam Iskandar Muda menjelaskan penertiban bendera Bulan Bintang di Pidie melibatkan 272 personel; tembaka...
PPP Nagan Raya Nyatakan Dukungan untuk Ketua DPC Mohd Rizki
Keluarga besar PPP Nagan Raya menyatakan dukungan moral kepada Ketua DPC Mohd. Rizki Ramadhan dan menegaskan...