Nasional

Bappenas: Transisi Energi Jadi Fondasi Menuju Indonesia Emas 2045

Bagikan:
Ilustrasi transisi energi untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045

Bappenas menegaskan transisi energi sebagai fondasi penting untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Pernyataan itu disampaikan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy saat peluncuran buku kerja sama Kementerian PPN/Bappenas dan Program Energi GIZ, Senin, 29 Juni 2026. Menurut Rachmat, pemanfaatan potensi energi harus direncanakan untuk manfaat jangka panjang negara.

Potensi sumber energi nasional

Rachmat menyebut Indonesia memiliki cadangan energi beragam dan tersebar di banyak wilayah. Sumber tersebut meliputi:

  • panas bumi
  • tenaga air
  • tenaga surya
  • tenaga angin
  • bioenergi
  • gas
  • mineral kritis untuk teknologi masa depan

"Kita berharap seluruh potensi sumber energi tersebut dapat dimanfaatkan, bukan hanya untuk Indonesia saat ini. Tetapi juga untuk Indonesia masa depan,"

Pendekatan perencanaan berbasis kewilayahan

Buku yang diluncurkan menawarkan pendekatan perencanaan energi berbasis kewilayahan. Pendekatan ini mempertimbangkan karakteristik tiap daerah, sistem energi lokal, tingkat pembangunan, serta potensi sumber daya yang berbeda. Dengan demikian strategi transisi diharapkan lebih adaptif dan mendukung pembangunan inklusif.

Dampak ekonomi, ketenagakerjaan, dan tantangan

Bappenas menilai transisi energi akan mengubah struktur ekonomi dan lapangan kerja. Oleh sebab itu proses transisi perlu dilakukan secara bertahap, terencana, dan berkeadilan agar manfaatnya tersebar luas. Kajian juga menekankan bahwa transisi tidak hanya soal pengembangan pembangkit terbarukan, tetapi mencakup:

  • transformasi ekonomi
  • pembangunan industri
  • pemerataan wilayah
  • penguatan ketahanan energi
  • penciptaan peluang pertumbuhan ekonomi baru

Studi tersebut menunjukkan tantangan ganda: memenuhi kebutuhan energi untuk mendukung visi negara maju pada 2045 sambil mencapai target penurunan emisi dan Net Zero Emissions (NZE). Jadi transisi energi harus terintegrasi dengan kebijakan pertumbuhan dan industrialisasi.

Peran daerah dan kolaborasi lintas sektor

Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas, Leonardo A.A. Teguh Sambodo, menekankan kebijakan transisi energi perlu disesuaikan dengan karakteristik dan tingkat konsumsi energi tiap daerah. Daerah berenergi rendah memerlukan pendekatan berbeda soal infrastruktur dan pengembangan ekosistem.

Bappenas juga menyebut kolaborasi pusat-daerah, sektor swasta, akademisi, lembaga pembangunan, dan masyarakat sebagai kunci membangun sistem energi yang bersih dan adil.

"Transisi energi merupakan peluang untuk memperkuat ketahanan energi, meningkatkan daya saing ekonomi. Dan mendorong pembangunan yang berkelanjutan,"

Implikasi kebijakan

Peluncuran buku diharapkan memperkuat dialog nasional tentang arah transisi energi dan mendukung pembaruan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) serta penguatan implementasi Rencana Umum Energi Daerah (RUED). Langkah ini penting untuk menyelaraskan perencanaan kewilayahan dengan target nasional dan memastikan manfaat transisi dapat dinikmati generasi mendatang.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait