Politik

Petani Tembakau Ngawi Siapkan Lahan Jelang El Niño 2026

Bagikan:
Petani menutup bedengan semaian tembakau dengan mulsa putih di Ngawi

NGAWI — Musim kemarau 2026 diperkirakan lebih panjang dan terik karena efek El Niño. Kondisi ini membuat petani tembakau di Kabupaten Ngawi mempersiapkan lahan semaian lebih awal untuk memanfaatkan cuaca kering yang ideal bagi tanaman tembakau.

Persiapan semaian dan optimisme petani

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Kabupaten Ngawi, Sojo, mulai menutup puluhan bedengan semaian dengan mulsa putih di sawahnya di Desa Karangjati. Benih disemai sambil menunggu panen padi selesai sehingga lahan siap ditanami tembakau.

Cuaca panas yang diprediksi memberikan kesempatan bagi kualitas daun tembakau, namun bukan jaminan keberhasilan ekonomi petani.

"Adanya prediksi El-Nino Godzilla tentu membawa optimisme bagi petani tembakau. Musim kemarau panjang dan kering sangat bagus untuk tanaman tembakau,"

Kenaikan biaya produksi menekan margin

Meski optimistis, Sojo memperingatkan bahwa keuntungan petani tidak otomatis. Kenaikan harga pupuk nonsubsidi menjadi beban utama yang menaikkan biaya pokok produksi.

Berdasarkan analisa usaha tani APTI, sebelum kenaikan pupuk biaya pokok produksi tembakau berada di kisaran Rp38 juta hingga Rp42 juta per hektare. Dengan perubahan harga input, struktur biaya berubah signifikan.

KeteranganNilai
Biaya pokok produksi (sebelum kenaikan)Rp38–42 juta/ha
Rata-rata produksi1,8 ton/ha
Harga jual rata-rataRp40.000/kg
Pendapatan (perkiraan)Rp70 juta/ha
Keuntungan (perkiraan)~Rp30 juta/ha

Selain pupuk, biaya pestisida, plastik pembibitan, dan upah tenaga kerja juga naik. Sojo menegaskan jika biaya produksi meningkat tanpa kenaikan harga jual yang proporsional, petani berisiko merugi.

"Kalau biaya produksi naik, otomatis harga dasar jual petani juga harus naik. Kalau tidak, petani yang rugi,"

Peran pemerintah dan penguatan tata niaga

Sojo meminta keterlibatan lebih aktif pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian dan Dinas Perdagangan. Menurutnya, Dinas Pertanian seharusnya fokus pada pendampingan budidaya hingga panen, sedangkan tata niaga dan pemasaran perlu ditangani oleh Dinas Perdagangan.

Ia mencontohkan Kabupaten Pamekasan yang memiliki peraturan daerah terkait biaya pokok produksi sebagai model untuk memperkuat posisi tawar petani saat panen.

Saat ini, beberapa perusahaan seperti PT Merabu masih menjalin kemitraan yang menyediakan pendampingan dan jaminan pasar. Namun Sojo berharap lebih banyak perusahaan rokok besar kembali menyerap tembakau Ngawi untuk menciptakan kompetisi harga yang menguntungkan petani.

"Jangan sampai tembakau hanya dibanggakan saat panen berhasil, tetapi prosesnya tidak dikawal dan difasilitasi,"

Dengan kombinasi cuaca yang mendukung dan kebijakan tata niaga yang kuat, petani tembakau Ngawi berpeluang meningkatkan kualitas dan pendapatan. Namun tanpa pengendalian biaya dan pasar yang jelas, keuntungan itu sulit dicapai.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait