Komdigi Targetkan Rata-rata Internet 100 Mbps dalam 2 Tahun
Jakarta. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menetapkan target menaikkan rata-rata kecepatan internet Indonesia menjadi 100 Mbps dalam dua tahun ke depan. Langkah ini dilakukan melalui perluasan infrastruktur, peningkatan akses yang lebih terjangkau, dan pemanfaatan teknologi satelit untuk menjangkau wilayah terlayani minim.
Target dan strategi pemerintah
Wakil Menteri Nezar Patria menyatakan akses internet yang andal kini menjadi kebutuhan dasar. Pemerintah akan mendorong operator telekomunikasi meningkatkan investasi pada jaringan, khususnya perluasan serat optik dan penguatan layanan fixed broadband.
“We are committed to achieving an average internet speed of 100 Mbps nationwide at a more affordable price within the next two years,” Nezar Patria.
Selain itu, Komdigi mendorong operator seluler dan perusahaan telekomunikasi meningkatkan belanja modal agar layanan dapat diperluas sampai kawasan terpencil.
“We are also encouraging cellular operators and telecommunications companies to increase their capital expenditure so they can expand services to remote regions,” Nezar Patria.
Kinerja kecepatan saat ini
Berdasarkan Speedtest Global Index versi Mei, posisi Indonesia mengalami penurunan. Kecepatan internet seluler rata-rata tercatat 62,54 Mbps, menempati peringkat ke-74 dari 101 negara, turun empat peringkat dari April.
Untuk fixed broadband, Indonesia berada di peringkat ke-117 dari 149 negara dengan kecepatan rata-rata 47,10 Mbps, turun dari peringkat 114 sebelumnya.
Pengguna internet dan pola pemakaian
Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat jumlah pengguna internet naik 1,06% secara tahunan menjadi 235,2 juta pengguna pada 2026, atau sekitar 82% populasi. Sebagian besar pengguna terkonsentrasi di Pulau Jawa.
Pola penggunaan utama menurut survei APJII adalah sebagai berikut:
- 19,9%: komunikasi dan jejaring sosial
- 19,7%: hiburan digital
- 19,6%: akses informasi dan berita
- 18,7%: e-commerce dan layanan online
- 10,9%: pendidikan dan kerja
- 5,8%: layanan keuangan
- 4,5%: layanan publik dan pemerintahan
Hambatan perluasan konektivitas
Meski penetrasi meningkat, sejumlah hambatan masih menghalangi akses universal. APJII melaporkan alasan utama masyarakat tidak online:
- 34,0%: tidak memiliki perangkat yang mendukung akses internet
- 31,5%: kurangnya keterampilan digital
- 17,2%: biaya data seluler terlalu mahal
- 12,9%: melihat sedikit manfaat menggunakan internet
- 1,3%: keterbatasan fisik
Wakil Menteri juga mengakui masih ada daerah dengan sinyal lemah atau tidak terlayani, termasuk di beberapa bagian Pulau Jawa. Perluasan infrastruktur dianggap prioritas agar tidak ada blank spot dan agar respons bencana dapat segera memulihkan jaringan telekomunikasi.
“We have to close the infrastructure and connectivity gap, including addressing areas that remain blank spots,” Nezar Patria.
Implikasi dan langkah ke depan
Untuk mencapai target 100 Mbps, perlu kombinasi investasi swasta besar, kebijakan pendukung pemerintah, serta program peningkatan literasi digital dan subsidi perangkat bila diperlukan. Jika berhasil, peningkatan kecepatan diharapkan mendorong pertumbuhan ekonomi digital dan memperkecil kesenjangan layanan antarwilayah.
Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.
Berita Terkait
Kru ISS Jadi 11 Orang: Crew-13 Tiba, Crew-12 Bersiap Pulang
Empat anggota Crew-13 tiba di ISS 1 Oktober 2026, menambah kru jadi 11; Crew-12 menyelesaikan persiapan kepu...
COGI VR BRIN: Simulasi VR untuk Pengenalan Teknologi Nuklir
Poltek Nuklir BRIN luncurkan COGI VR, simulasi replica gamma irradiator untuk meningkatkan literasi nuklir s...
GodDamn: Waspada, Ransomware Bekerja Lama Sebelum Mengunci File
ITSEC Asia: Serangan GodDamn sering dimulai jauh sebelum file dikunci, lewat pencurian kredensial dan perger...
James Webb Ungkap Jejak Tabrakan Pembentuk Planet Muda
James Webb menemukan jejak tumbukan besar pada sistem bintang muda, membantu memahami proses pembentukan pla...
Dilema Bimbel vs Kemandirian Siswa Dibahas di IIBF 2026
Diskusi IIBF 2026 mengupas dilema bimbel komersial dan pentingnya kemandirian belajar dengan buku panduan be...
Kecemasan Ujian Bikin Blank, Taktik Soal Dibahas di IIBF 2026
Pakar dan pelajar di IIBF 2026 membahas bagaimana kecemasan ujian memicu reaksi biologis, serta strategi nap...