Suhu Dalam Rumah 31°C, Risiko Heat Stress pada Lansia Meningkat
Yogyakarta — Penelitian terbaru dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menemukan bahwa suhu di dalam rumah yang tinggi meningkatkan risiko penyakit terkait panas pada lansia. Studi di Yogyakarta mencatat rata-rata suhu dalam rumah mencapai 31°C, dan setiap kenaikan selisih suhu dalam-luar sebesar 1°C dikaitkan dengan peningkatan risiko heat stress sebesar 32%.
Temuan utama penelitian
Peneliti mengukur kondisi termal di rumah yang dihuni orang tua dan membandingkannya dengan suhu luar. Hasil menunjukkan suhu dalam rumah kerap lebih tinggi, sehingga paparan berbahaya tidak hanya terjadi di luar ruangan.
BMKG melaporkan bahwa suhu rata-rata udara nasional antara Juni dan Juli 2026 mencapai 27,3°C, sekitar 0,7°C di atas rerata klimatologis jangka panjang, menandakan peningkatan frekuensi periode panas ekstrem.
Risiko kesehatan dan gejala
Menurut Aditya Lia Ramadona dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM, paparan panas berkepanjangan dapat berujung pada heat stroke, kondisi medis yang mengancam jiwa ketika tubuh kehilangan kemampuan mengatur suhu.
In simple terms, the body loses its ability to control its temperature. Body temperature rises rapidly, cooling mechanisms such as sweating are no longer effective, and vital organs and the brain begin to malfunction
Gejala yang harus diwaspadai meliputi suhu tubuh sangat tinggi, bingung, bicara cadel, kejang, dan kehilangan kesadaran.
Dampak pada layanan kesehatan
Studi juga menemukan bahwa setiap kenaikan rata-rata suhu mingguan sebesar 1°C terkait dengan peningkatan kunjungan ibu dan anak ke fasilitas kesehatan primer sebesar 15,5%. Ini menunjukkan dampak panas tidak terbatas pada lansia saja, melainkan juga kelompok rentan lainnya.
Saran pencegahan dan kebijakan
Untuk mengurangi risiko heat stress dan heat stroke, peneliti merekomendasikan langkah-langkah sederhana namun penting:
- Minum air yang cukup secara berkala.
- Mengenakan pakaian ringan dan bernapas.
- Menghindari aktivitas fisik berat pada puncak panas.
- Mencari tempat teduh atau ruangan yang lebih sejuk.
- Menjadwalkan olahraga atau kerja berat pada pagi atau sore hari.
Lebih dari perubahan perilaku individu, Ramadona menekankan perlunya kebijakan publik: sistem peringatan dini panas, penyesuaian jam sekolah dan kerja saat gelombang panas, perlindungan bagi pekerja luar, serta peningkatan kapasitas layanan kesehatan untuk merespons penyakit akibat panas.
Extreme heat is no longer just uncomfortable weather. It has become a public health issue and a challenge to social resilience
Dengan frekuensi panas ekstrem yang meningkat, penanganan terpadu antara masyarakat, layanan kesehatan, dan pembuat kebijakan menjadi kunci untuk melindungi kelompok rentan, terutama lansia.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
Lima Wanita Terkaya Indonesia Miliki Total Kekayaan Rp325 Triliun
Lima wanita terkaya Indonesia menguasai total kekayaan sekitar Rp325 triliun, dipimpin Marina Budiman dengan...
Kebugaran Anak Muda Indonesia: Minat Tinggi, Informasi Justru Membingungkan
Minat kebugaran anak muda meningkat, namun 42% merasa kewalahan oleh informasi kesehatan yang saling bertent...
Wanita di Bandar Lampung Menangis saat Buaya Muara 2 Meter Diambil
Seorang wanita di Bandar Lampung menangis saat petugas mengevakuasi buaya muara ~2 meter yang dipelihara sej...
Koster Tetapkan Batas: Semua Papan Nama di Bali Wajib Aksara Bali hingga Apr 2027
Gubernur Bali Wayan Koster memberi tenggat akhir April 2027 bagi pemasangan aksara Bali pada papan nama publ...
PPBN 2026 Siapkan Generasi Muda Jadi Duta Pelestari Batik
PPBN 2026 angkat tema Batik Derawan dan Maratua; ajang ini membekali generasi muda jadi duta budaya lewat ka...
HBRC Bandung Rayakan Anniversary ke-17 di Ciwidey
HBRC Bandung merayakan Anniversary ke-17 di Ciwidey dengan sekitar 1.000 peserta, memperkuat ikatan komunita...