Siti Dewi Sutan Assin, Pembawa Baki Bendera Pusaka 1946
Siti Dewi Sutan Assin menjadi pembawa baki Bendera Pusaka pada upacara 17 Agustus 1946 di Gedung Agung, Yogyakarta. Peran itu dilakukan atas penugasan Presiden Soekarno yang meminta Mayor Laut Husein Mutahar menyiapkan upacara, dan pemilihan lima pelajar pada saat itu kemudian menjadi cikal bakal tradisi Paskibraka.
Peran pada 17 Agustus 1946
Pada upacara kemerdekaan tahun 1946, Mayor Laut Husein Mutahar menunjuk lima pelajar yang sedang menuntut ilmu di Yogyakarta. Kelima pemuda tersebut dipilih untuk mewakili seluruh Nusantara, dengan jumlah lima orang sebagai simbol Pancasila.
Salah satu dari mereka, yang akrab dipanggil Titik, dipercaya memegang posisi penting sebagai pembawa baki yang menerima Bendera Pusaka dari Presiden Soekarno. Tugas itu digelar pada 17 Agustus 1946 di Gedung Agung Yogyakarta dan tercatat sebagai momen awal pembentukan tradisi pengibaran bendera nasional oleh pasukan pelajar.
Latar belakang dan aktivitas masa muda
Siti Dewi Sutan Assin lahir di Manado, Sulawesi Utara, pada 5 Oktober 1926. Ayahnya, Sutan Assin, bekerja sebagai dokter dan kemudian ditempatkan di Yogyakarta, sehingga keluarga pindah dan Titik melanjutkan pendidikannya di kota itu.
Selain sekolah, Titik aktif sebagai relawan Palang Merah, anggota kepanduan, dan bergiat di dapur umum. Keterlibatan itu menunjukkan kepeduliannya terhadap sesama pada masa perjuangan kemerdekaan.
Pendidikan lanjutan dan kehidupan keluarga
Setelah ibu kota kembali ke Jakarta pada 1950, orang tua Titik menyekolahkan dia ke Belanda untuk memperdalam ilmu keguruan dan pendidikan. Pilihan ini sejalan dengan cita-citanya untuk memajukan pendidikan di Tanah Air.
Setibanya di Indonesia, Titik bertemu kembali dengan kakak kelasnya, Atmono Suryo. Keduanya menikah, dan karena Atmono berkarier sebagai diplomat dan duta besar, pasangan itu kemudian menetap di Amerika Serikat selama masa tugas diplomatik.
Warisan dan akhir hayat
Peran Siti Dewi sebagai pembawa baki pada 1946 menempatkannya dalam sejarah upacara kemerdekaan Indonesia dan menjadi inspirasi bagi generasi Paskibraka selanjutnya. Tradisi pengibaran bendera oleh pasukan pelajar yang dimulai pada masa itu masih berlangsung hingga kini.
Siti Dewi Sutan Assin wafat pada 20 Desember 2000 dan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karet, Jakarta. Jejak perannya tetap dikenang sebagai bagian penting sejarah upacara kenegaraan Indonesia.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
Lebih dari 50% Tiket Konser Ye di Jakarta Dibeli Fans Asing
Lebih dari 52% tiket konser Ye di Jakarta ludes dibeli fans luar negeri dalam 24 jam pertama; potensi dorong...
Doulos Hope Tiba di Jakarta: Pameran Buku Terapung Sebulan
Kapal pameran Doulos Hope singgah di Jakarta 16 Sept–11 Okt 2026 dengan lebih dari 2.000 judul; tiket Rp15.0...
Indonesia Dorong Penyebaran Investasi Pariwisata di Luar Jakarta–Bali
Pemerintah mendorong penyebaran investasi pariwisata dari Jakarta dan Bali ke 13 destinasi prioritas dan 10...
Kolintang Minahasa Bawa Diplomasi Budaya Indonesia ke UNESCO Paris
Kolintang Rhythm of Minahasa tampil di UNESCO Paris (27 Sept-3 Okt 2026) untuk misi diplomasi budaya dan mem...
Fadli Zon Umumkan Revitalisasi Galeri Nasional Jakarta
Menbud Fadli Zon mengumumkan Galeri Nasional Jakarta akan direvitalisasi setelah pameran Nasirun pada 12 Sep...
Hari Programmer Sedunia: Sejarah dan Makna 13 September
Hari Programmer diperingati tiap 13 September karena hari ke-256 merepresentasikan satu byte, simbol penting...