DPRD Surabaya Dorong Dialog Terbuka Selesaikan Sengketa Aset Pasar Turi
SURABAYA — Komisi A DPRD Surabaya meminta penyelesaian sengketa aset PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) di kawasan emplasemen Stasiun Surabaya Pasar Turi dilakukan lewat dialog terbuka, musyawarah, dan transparansi. Pernyataan itu disampaikan Sekretaris Komisi A, Anas Karno, saat rapat dengar pendapat pada Kamis (6/8/2026).
Inti tuntutan DPRD: komunikasi dan keterbukaan data
Anas menekankan bahwa penyelesaian tak boleh bersifat sepihak. Ia meminta semua pihak diberi kesempatan yang sama untuk menghadirkan data, dokumen, dan landasan hukum sebelum keputusan diambil. Tujuannya agar solusi yang dihasilkan dapat diterima luas dan tidak menimbulkan keresahan publik.
"Komisi A ingin memastikan seluruh pihak memperoleh kesempatan yang sama untuk menyampaikan data, dokumen, dan fakta hukum yang dimiliki. Penyelesaian persoalan aset harus dilakukan secara transparan agar tidak menimbulkan ketidakpastian maupun keresahan di tengah masyarakat," tegas Anas.
Posisi PT KAI dan warga
Dalam rapat, PT KAI menyatakan area emplasemen Pasar Turi masuk rencana pengembangan kawasan dan berada di atas lahan bersertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB). Perusahaan juga mengklaim telah mengantongi putusan kasasi terkait objek yang disengketakan.
Sementara itu, perwakilan warga menyampaikan sebagian kawasan telah dihuni masyarakat selama puluhan tahun. Mereka mengklaim memiliki dasar penguasaan atau dokumen kepemilikan atas sejumlah bidang tanah. Perbedaan klaim ini memicu permintaan verifikasi data secara menyeluruh dari DPRD.
Langkah pemeriksaan dan pihak yang dilibatkan
Sebagai bagian dari fungsi pengawasan, Komisi A menjadwalkan rapat lanjutan. Pertemuan berikutnya akan menghadirkan Kantor Pertanahan Surabaya II, Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kota Surabaya, Kejaksaan Negeri Tanjung Perak, dan unit PT KAI yang menangani aset serta pengembangan kawasan.
Komisi A meminta semua pihak membawa dokumen resmi sehingga persoalan dapat dipetakan secara menyeluruh. Selain itu, DPRD meminta Pemerintah Kota Surabaya melalui Lurah Gundih dan Camat Bubutan membantu inventarisasi dokumen warga dan memfasilitasi mediasi bila diperlukan.
Dampak dan harapan ke depan
Komisi A menegaskan penyelesaian harus menjunjung kepastian hukum sekaligus mempertimbangkan aspek kemanusiaan. Dengan membuka data dan mengedepankan musyawarah, DPRD berharap ditemukan solusi yang adil bagi warga dan kepentingan publik tanpa memicu konflik baru.
Rapat lanjutan akan menentukan langkah administratif maupun mediasi berikutnya untuk menyelesaikan sengketa ini.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
DPRD Kediri: Tingkatkan Dukungan untuk Ormas Keagamaan
Yuzar Rasyid mendorong pemerintah memperkuat dukungan bagi ormas keagamaan untuk pembinaan akhlak dan pening...
Soekarno Run Blitar 2026: Peserta Tembus 5.000, Ekonomi Lokal Bangkit
Soekarno Run Blitar 2026 (8/11/2026) menarik lebih dari 5.000 peserta dan menggerakkan ekonomi lokal, dari h...
Pagelaran Campursari 'Tombo Ati' Hidupkan Tradisi di Bojonegoro
Ratusan warga Sambongrejo menghadiri Pagelaran Campursari "Tombo Ati" untuk melestarikan budaya dan mendoron...
Soekarno Run 2026 di Blitar: 4.200 Pelari Bawa Pesan Berdikari
Soekarno Run 2026 di Blitar diikuti 4.200 pelari. Rute melewati Istana Gebang dan Makam Bung Karno, menekank...
Pokmas Watu Ulo Didorong Kembangkan Pariwisata Bahari Jember
DPRD Jember mendorong Pokmas JWS kembangkan Pantai Watu Ulo berkelanjutan untuk mendorong ekonomi lokal dan...
Sertu Heri Prasetyo Gugur pada Kecelakaan Helikopter Mi-17
Sertu Heri Prasetyo gugur saat misi pemadaman karhutla di Kalimantan; jenazah dimakamkan di TMP Karangsoko,...