Sekolah Lansia Dorong Lansia Tangguh dan Kontribusi Ekonomi
Sekolah Lansia menjadi wadah untuk menjaga lansia tetap aktif dan produktif melalui pelatihan kesehatan, kewirausahaan, dan keterampilan sosial. Pernyataan itu disampaikan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Dr. Wihaji saat perayaan Hari Lanjut Usia Nasional ke-30, Selasa 9 Juni 2026, di Ballroom Kemendukbangga/BKKBN. Program ini juga diharapkan membantu lansia berperan dalam silver economy di tengah populasi lanjut usia yang mendekati 12 persen.
Sekolah Lansia dan peran dalam silver economy
Menurut Wihaji, lansia bukan hanya penerima manfaat, melainkan potensi ekonomi. Dengan dukungan kesehatan dan kebijakan yang tepat, lansia dapat bekerja sebagai konsultan, mentor, pelaku usaha, atau bahkan investor lewat tabungan dan aset yang dimiliki. Konsep silver economy membuka peluang di sektor layanan kesehatan, teknologi ramah lansia, pariwisata, dan jasa keuangan.
Kurikulum dan manfaat praktis
Sekolah Lansia mengajarkan beragam keterampilan untuk menjaga fisik dan mental agar tetap produktif. Materi yang diberikan mencakup aspek kesehatan hingga kemampuan berwirausaha. Pelatihan ini dirancang agar lansia dapat berkontribusi terhadap ekonomi sekaligus mentransfer pengalaman kepada generasi muda.
- Tujuh dimensi lansia tangguh
- Pencegahan risiko jatuh
- Manajemen kegawatdaruratan
- Pendampingan pasca-stroke
- Kewirausahaan lansia
- Motivasi dan pemberdayaan lansia
Suara peserta
Banyak peserta merasa program memberi manfaat langsung bagi kualitas hidup mereka. Mereka bukan sekadar mengisi waktu, tetapi juga mendapatkan pengetahuan dan pertemanan yang meningkatkan kesejahteraan mental.
Saya bangga sekali mengikuti kegiatan di Sekolah Lansia, saya mendapatkan pengetahuan kesehatan. Bertemu dengan teman-teman, pikiran kita jadi nggak beku, menjadi kegembiraan bagi saya — Ema Amina, 64, wisudawan Sekolah Lansia Wijaya Kusuma Bogor.
Para peserta merasa lebih senang bertemu dengan sesama komunitas serta mendapatkan program-program yang ramah lansia — Nyimas Aliah, 65, wisudawan Sekolah Lansia Ratu Sinuhun.
Dukungan kebijakan dan prospek
Menteri Wihaji menekankan pentingnya peran negara agar lansia tidak merasa kesepian dan tetap produktif. Dukungan layanan kesehatan, pendidikan, dan kebijakan inklusif menjadi kunci agar kontribusi lansia dalam bonus demografi kedua berjalan berkelanjutan.
Dengan pelatihan yang tepat, lansia diharapkan tidak hanya menikmati masa tua, tetapi juga menjadi sumber nilai ekonomi dan sosial bagi keluarga serta masyarakat luas. Ke depan, perlu penguatan sinergi antara penyelenggara program, pemerintah daerah, dan sektor swasta untuk memperluas jangkauan Sekolah Lansia dan memperkuat ekosistem silver economy.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
5 Tanaman Hias Penyejuk Rumah yang Mudah Dirawat
Lima tanaman hias indoor yang mudah dirawat ini dapat mempercantik dan menyejukkan rumah sekaligus membantu...
Teh Kaya Antioksidan: Peran Polifenol dan Katekin untuk Kesehatan
Teh mengandung antioksidan seperti polifenol dan katekin yang membantu menjaga kesehatan ketika dikonsumsi s...
Diabetes Tak Terdeteksi, Ancaman Diam bagi Masyarakat
Sekitar 73% penderita diabetes di Indonesia tidak menyadari kondisinya; 20 juta terjangkit dan angka diperki...
Pentingnya Sarapan Pagi: Manfaat untuk Energi dan Konsentrasi
Sarapan pagi memberi energi, meningkatkan konsentrasi, dan mendukung metabolisme. Pilih menu seimbang untuk...
PCOS Resmi Berganti Nama Jadi PMOS: Kenali Gejala dan Penyebab
PCOS resmi berubah nama menjadi PMOS (12 Mei 2026). Ketahui gejala, penyebab, dan langkah pencegahan seperti...
Cuaca Buruk: 27.308 Balita di Bekasi Terserang Batuk 2026
Dinas Kesehatan Bekasi mencatat 27.308 balita terserang batuk sepanjang 2026; cuaca buruk dan infeksi menjad...