Nasional

Sejarah Erupsi Krakatau 1883: Dampak Global dan Bangkitnya Anak Krakatau

Bagikan:
Ilustrasi letusan gunung Krakatau dan awan abu vulkanik menyebar di atmosfer

Gunung Krakatau di Selat Sunda kembali menjadi sorotan setelah Gunung Anak Krakatau erupsi pada 6 September 2026. Peristiwa itu mengingatkan pada letusan dahsyat Krakatau pada 1883 yang berdampak luas secara lokal dan global.

Lokasi dan tanda-tanda awal

Krakatau terletak di Selat Sunda, di antara Pulau Sumatera dan Jawa. Kawasan ini adalah zona vulkanik aktif yang terbentuk dari aktivitas tektonik dan magmatik selama ribuan tahun.

Catatan sejarah menunjukkan aktivitas gunung meningkat sejak Mei 1883 dan terus membesar hingga puncaknya pada akhir Agustus tahun itu.

Letusan 27 Agustus 1883 dan kerusakan

Pada 27 Agustus 1883, terjadi letusan besar yang menghancurkan sebagian besar tubuh Krakatau. Suara ledakan terdengar hingga Australia dan Pulau Rodrigues, mencerminkan besarnya energi yang dilepaskan.

Selain kehancuran langsung, longsoran dan gelombang memicu tsunami yang menerjang pesisir di sekitar Selat Sunda. Bencana ini menewaskan lebih dari 36.000 orang dan menghancurkan desa-desa pesisir.

Dampak atmosfer dan iklim

Letusan besar itu melepaskan jutaan ton sulfur ke atmosfer. Partikel dan gas tersebut menyebar ke lapisan stratosfer dan memengaruhi iklim global selama beberapa tahun.

Akibatnya, suhu rata-rata permukaan bumi diperkirakan turun sekitar 1,26C, memicu fenomena yang disebut musim dingin vulkanik di beberapa wilayah.

Abu vulkanik dan aerosol juga menghasilkan langit kemerahan saat senja di banyak tempat dan, pada beberapa kesempatan, membuat penampakan bulan tampak kebiruan.

Perubahan morfologi dan munculnya Anak Krakatau

Letusan 1883 menghancurkan sebagian besar struktur Krakatau sehingga terbentuk kaldera besar, sebagian berada di bawah permukaan laut. Beberapa dekade kemudian, aktivitas bawah permukaan memunculkan gunung baru, yang dikenal sebagai Anak Krakatau.

Anak Krakatau tumbuh melalui erupsi berulang dan menjadi pusat aktivitas vulkanik di kawasan tersebut.

Peristiwa 2018 dan pelajaran mitigasi

Pada Desember 2018, Anak Krakatau kembali memicu bencana. Longsoran tubuh gunung menyebabkan tsunami di pesisir Lampung dan Banten, menegaskan bahwa dampak vulkanik dapat bersifat sekunder namun sangat mematikan.

Sejarah Krakatau menunjukkan bahwa letusan gunung berapi dapat menghasilkan efek langsung dan jangka panjang, mulai dari tsunami hingga perubahan iklim lokal dan global.

Kesimpulan

Pemahaman atas kronologi 1883 dan kejadian berikutnya menjadi landasan penting untuk pengembangan sistem pemantauan, peringatan dini, dan strategi mitigasi bencana di kawasan Selat Sunda. Upaya terus-menerus diperlukan untuk mengurangi risiko terhadap komunitas pesisir yang rentan.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait