Badan Geologi: Suplai Magma Picu Erupsi Berulang Anak Krakatau
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyebut erupsi Gunung Anak Krakatau yang berulang pada 2026 dipicu oleh adanya suplai magma dan gas yang masih berlangsung di tubuh gunung. Pernyataan disampaikan pada Minggu, 6 September 2026, setelah puncak aktivitas pada 5 September 2026 yang ditandai erupsi berulang dan fenomena air mancur lava. Badan Geologi menekankan pemantauan berkelanjutan untuk menilai perkembangan aktivitas.
Sumber dan frekuensi erupsi
Lana menjelaskan Anak Krakatau telah memasuki periode sangat aktif sejak Juli 2026 dan mengalami lonjakan aktivitas pada awal September. Menurutnya, rangkaian erupsi menunjukkan adanya suplai magma dan gas yang terus menerus mengisi sistem vulkanik.
Pada tahun ini, Gunung Anak Krakatau sudah mulai aktif sejak Juli 2026. Puncak erupsi telah berlangsung pada Sabtu 5 September 2026.
Erupsi kali ini memang terjadi berulang-ulang secara terus menerus.
Pemantauan: parameter dan indikator
Badan Geologi tidak hanya mengandalkan jumlah atau tinggi kolom erupsi. Evaluasi dilakukan dengan melihat seluruh parameter pemantauan untuk mengetahui perubahan aktivitas gunung secara lebih komprehensif.
Indikator yang tercatat meliputi gempa frekuensi rendah serta jenis gempa hybrid, harmonik, dan tremor yang menunjukkan suplai magma dan pergerakan fluida di dalam tubuh gunung.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau berpotensi berfluktuasi dan meningkat.
Risiko dan imbauan keselamatan
Badan Geologi mengingatkan masyarakat dan pihak terkait agar mewaspadai bahaya sekunder akibat erupsi. Ancaman utama meliputi lontaran material pijar, batuan vulkanik, abu vulkanik, serta kemungkinan aliran material di sekitar kawah.
- Lontaran material pijar yang dapat merusak peralatan dan membahayakan orang di dekat pusat aktivitas
- Abu vulkanik yang mengganggu pernapasan dan transportasi udara
- Aliran material erupsi yang dapat menutup akses dan merusak ekosistem pesisir
Masyarakat diimbau mengikuti rekomendasi keselamatan dari Badan Geologi dan menjaga jarak aman dari kawasan rawan.
Meskipun demikian, waktu, besar, dan bentuk erupsi berikutnya tidak dapat dipastikan secara tepat. Karena itu evaluasi dilakukan secara berkelanjutan berdasarkan perubahan seluruh parameter pemantauan.
Sejarah singkat dan status terkini
Badan Geologi mencatat seri erupsi berskala rendah sebelumnya terjadi pada 16 Desember 2023 sebelum aktivitas kembali muncul pada 2 Juli 2026. Sejak kenaikan aktivitas itu, status Gunung Anak Krakatau ditetapkan pada Level III (Siaga). Warga dan pelaku kegiatan di perairan sekitar diminta tetap waspada terhadap perkembangan situasi.
Pemantauan intensif dan komunikasi risiko terus dilakukan untuk memberi peringatan dini bila terjadi peningkatan aktivitas yang berarti.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Siapkan Pusat Rehabilitasi untuk Warga Binaan Narkotika
Pemerintah siapkan pusat rehabilitasi dan reedukasi bagi warga binaan pengguna narkotika untuk atasi overkap...
BMKG Waspadai Hujan Lebat, Petir, Angin Kencang 5-8 Okt
BMKG keluarkan peringatan dini hujan lebat, petir, dan angin kencang pada 5-8 Oktober 2026; waspadai empat w...
Prabowo Pimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap
Presiden Prabowo memimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap, 5 Oktober 2026; melibatkan 3.378 personel...
HUT TNI ke-81: DPR Dorong Modernisasi Hadapi Perang Modern
DPR mendesak modernisasi alutsista dan peningkatan pelatihan TNI menjelang HUT ke-81, seiring anggaran 2027...
Dua Induk Badak Sumatera Bunting di Way Kambas, Harapan Konservasi
Dua induk badak sumatera, Ratu dan Delilah, dinyatakan bunting di Suaka Rhino Sumatra Way Kambas; pemantauan...
Prabowo Minta Bakom Gunakan Bahasa Sederhana dan Dengarkan Rakyat
Presiden Prabowo minta Bakom gunakan bahasa sederhana, jelaskan alasan kebijakan, dan dengarkan masukan masy...