Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.943, Sentimen Kesepakatan AS-Iran
Rupiah menguat tipis terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan hari ini, tercatat naik 0,05 persen atau 9 poin menjadi Rp17.943 per dolar AS. Pergerakan ini dipengaruhi sentimen global terkait kesepakatan AS-Iran dan dinamika harga minyak, serta faktor kebijakan moneter AS dan kondisi domestik.
Pergerakan Rupiah
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menutup sesi hari ini menguat meski pergerakannya tergolong tipis. Pelaku pasar masih berhati-hati mengingat ketidakpastian kebijakan suku bunga global dan data ekonomi AS yang akan dirilis.
Dampak Kesepakatan AS-Iran dan Harga Minyak
Analis pasar Ibrahim Assuaibi menyebutkan bahwa kesepakatan awal antara AS dan Iran membuka kembali lalu lintas di Selat Hormuz. Pembukaan selat ini memberi ruang meredanya kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
"Sekitar 20 juta barel minyak telah keluar dari Selat Hormuz dalam waktu 24 jam," kata Ibrahim mengutip pernyataan Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright.
Negara-negara Teluk seperti:
- Oman
- Qatar
- Irak
- Iran
telah memulai dialog terkait pengelolaan bersama Selat Hormuz. Sementara itu, harga minyak dunia turun signifikan, yang memberikan harapan stabilitas harga energi ke depan.
Pengaruh Kebijakan The Fed dan Data Ekonomi AS
Ibrahim menilai penurunan harga minyak belum sepenuhnya meredam ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter ketat dari the Fed. Di kalangan pembuat kebijakan di the Fed terdapat perbedaan pandangan terkait suku bunga.
Saat ini delapan dari 19 anggota dewan the Fed memperkirakan kenaikan suku bunga menjelang akhir 2026, sementara mayoritas lainnya memproyeksikan suku bunga tetap stabil. Pasar akan lebih fokus pada data indeks pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), angka Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I 2026, serta klaim pengangguran mingguan AS.
Faktor Domestik: Pertumbuhan dan Diversifikasi Pasokan Energi
Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati optimisme pemerintah terhadap kondisi perekonomian Indonesia pada 2026. Kinerja kuartal pertama 2026 menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang impresif sebesar 5,61 persen, yang memperkuat sentimen positif.
"Dari dalam negeri, pelaku pasar mencermati optimisme pemerintah bahwa kondisi perekonomian Indonesia 2026 masih terjaga dengan baik," kata Ibrahim.
Pemerintah juga mendorong diversifikasi pasokan minyak. Saat ini impor minyak dari kawasan Timur Tengah sekitar 20 persen. Diversifikasi dilakukan dengan menyasar negara-negara Afrika seperti Nigeria dan Gabon, serta komitmen pembelian dari AS dan Venezuela melalui skema Agreement on Reciprocal Tariff (ART).
Prospek
Ke depan, pergerakan rupiah akan dipengaruhi kombinasi perkembangan geopolitik, tren harga minyak, dan arah kebijakan moneter AS. Pasar akan mengamati data ekonomi AS serta kebijakan fiskal dan langkah diversifikasi energi pemerintah Indonesia untuk menentukan arah nilai tukar selanjutnya.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
IHSG Ditutup Menguat di 5.999,03 Setelah Perdagangan Volatil
IHSG ditutup menguat pada 5.999,03 pada 25 Juni 2026 setelah sesi volatil; transaksi mencapai Rp13,407 trili...
IHSG Berbalik Menguat 2,69% ke 6.041 pada Penutupan Sesi I
IHSG naik 2,69% ke 6.041,93 pada sesi I (25 Juni 2026) dengan nilai transaksi Rp7,9 triliun; analis catat ri...
Airlangga Kerahkan Tim Debottlenecking Tinjau Turunnya Daya Saing
Menko Airlangga kerahkan tim 'debottlenecking' selidiki turunnya daya saing Indonesia; pasokan listrik jadi...
Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.963, Tekanan dari Ekspektasi The Fed
Rupiah dibuka melemah ke Rp17.963 per dolar AS; tekanan datang dari ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed d...
Harga Emas Antam Rp2,655 Juta per Gram Stabil 25 Juni 2026
Harga emas Antam per 1 gram bertahan di Rp2.655.000 pada 25 Juni 2026; tersedia pecahan 0,5–1.000 gram.
IMD Turunkan Peringkat Daya Saing Indonesia ke 48 (2026)
IMD menempatkan Indonesia di peringkat 48 dunia pada 2026 karena isu kelembagaan dan efisiensi bisnis, meski...