Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.963, Tekanan dari Ekspektasi The Fed
Rupiah dibuka melemah pada perdagangan hari ini, Jumat, 25 Juni 2026, ke level Rp17.963 per dolar AS seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed. Pelemahan ini mengikuti penutupan sebelumnya dan disebabkan oleh penguatan dolar AS serta antisipasi data inflasi AS.
Pembukaan dan pergerakan awal
Pada pembukaan pasar, rupiah tercatat melemah sekitar 0,06 persen atau 11 poin dari penutupan kemarin. Sebelumnya, nilai tukar pada penutupan Kamis tercatat di sekitar Rp17.952 per dolar AS. Para pelaku pasar memperhitungkan sentimen global sejak awal sesi, sehingga volatilitas tampak meningkat.
Pemicu: ekspektasi kenaikan suku bunga dan penguatan dolar
Tekanan utama datang dari ekspektasi investor terhadap kebijakan moneter AS. Kenaikan ekspektasi suku bunga the Fed mendorong indeks dolar AS menanjak ke level tertinggi dalam 13 bulan terakhir. Hari ini indeks dolar diprakirakan bergerak di kisaran 101,5–101,8.
Investor juga menantikan data inflasi AS berbasis pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), yang diperkirakan meningkat 0,3 persen menjadi 3,4 persen secara tahunan. Data ini dapat memperkuat ekspektasi pengetatan suku bunga dan mendorong permintaan aset yang denominasi dolar.
Proyeksi pergerakan rupiah
Analis Pasar Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memproyeksikan pergerakan rupiah hari ini tetap dalam tekanan kuat dolar AS. Ia memperkirakan:
- Rentang pergerakan harian: Rp17.900–Rp18.000 per dolar AS.
- Potensi pelemahan lanjutan menuju Rp18.000 jika tekanan dolar berlanjut.
"Kemungkinannya terbuka bagi rupiah kembali melemah ke Rp18.000 per dolar AS. Kalau BI tidak segera bertindak, melakukan intervensi atau menaikkan suku bunga," ujar Lukman.
Langkah Bank Indonesia yang mungkin ditempuh
Lukman menyebut intervensi di pasar valuta asing merupakan salah satu instrumen Bank Indonesia untuk menahan pelemahan. Intervensi dapat dilakukan di pasar spot domestik maupun pasar valas luar negeri, selain opsi pengetatan kebijakan moneter.
Bank Indonesia (BI) masih memiliki beberapa alat kebijakan, namun efektivitasnya akan bergantung pada intensitas arus modal dan tekanan eksternal dari penguatan dolar.
Dengan konteks global yang masih mendukung dolar, rupiah berpeluang mengalami fluktuasi sampai sinyal kebijakan dari AS dan tindakan BI lebih jelas terlihat.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Satu Pintu Perkuat Posisi Tawar Indonesia di Pasar Komoditas
Wacana ekspor satu pintu dibahas untuk memperkuat posisi tawar Indonesia atas komoditas sawit dan mineral. S...
Pertamina Catat Laba Bersih USD3,35 Miliar pada 2025
Pertamina membukukan laba bersih USD3,35 miliar dan pendapatan USD70,89 miliar tahun 2025, disampaikan dalam...
KAI Sediakan 395.531 Tiket Diskon, Ingatkan Aturan Bagasi
KAI menyediakan 395.531 tiket diskon libur sekolah dan mengingatkan aturan bagasi: gratis hingga 20 kg, dime...
Stasiun Gambir Layani 2,60 Juta Penumpang Jan–Mei 2026
Stasiun Gambir melayani 2.603.087 penumpang kereta jarak jauh Jan–Mei 2026, naik 11,95% dari 2025. KAI fokus...
Pemerintah Pangkas Biaya Marketplace hingga 50% untuk UMKM
Pemerintah mengurangi biaya layanan marketplace hingga 50% untuk meningkatkan daya saing UMKM digital dan me...
Plinth Track Perkuat Keandalan Jalur LRT Jabodebek
LRT Jabodebek melakukan perawatan harian plinth track pada 24 Juni 2026 untuk menjaga keandalan dan keselama...