Airlangga Kerahkan Tim Debottlenecking Tinjau Turunnya Daya Saing
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengerahkan tim debottlenecking untuk meneliti penyebab turunnya peringkat daya saing Indonesia. Pernyataan itu disampaikan di Jakarta pada Kamis, 25 Mei 2026, setelah hasil IMD World Competitiveness Ranking 2026 menempatkan Indonesia turun dari peringkat 40 ke 48 dari 70 negara. Pemerintah menilai penurunan ini berdampak pada keyakinan investor, khususnya terkait ketersediaan energi dan pasokan listrik.
Tim debottlenecking akan mendalami hambatan
Airlangga menyatakan tim yang dibentuk akan mengurai hambatan birokrasi dan teknis untuk mengetahui akar masalah. Ia menegaskan pemeriksaan akan diarahkan pada sektor yang menjadi perhatian investor.
“Nanti kami teliti lagi masalahnya di mana. Kami sudah ada persiapan dengan tim debottlenecking, jadi kita lihat saja dari sana,”
Isu energi dan pasokan listrik jadi sorotan
Menurut Airlangga, isu daya saing banyak terkait dengan ketersediaan energi. Investor menilai keandalan energi sebagai infrastruktur utama. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terutama bagi sektor manufaktur dan transportasi.
“Pasokan listrik harus stabil, makanya ada level satu sampai empat,”
Ia menambahkan pemenuhan kebutuhan energi penting untuk mendukung manufaktur, transportasi, maupun jasa.
“Baik untuk manufaktur, transportasi, maupun jasa,”
Masukan internasional dan posisi Indonesia
Airlangga juga menyebut bahwa Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) serta beberapa negara telah memberikan tinjauan sektoral terhadap kondisi Indonesia. Menurutnya, masukan yang muncul umumnya serupa dari waktu ke waktu.
“Tahun ini dan sebelumnya Indonesia masuk dalam review sektoral OECD maupun dengan berbagai negara lain. Yang muncul, isunya tidak terlalu beda.”
Data peringkat dan implikasi bagi investasi
Hasil IMD World Competitiveness Ranking 2026 menempatkan Indonesia pada peringkat 48 dari 70 negara, turun dari posisi 40 pada tahun sebelumnya. Negara tetangga menunjukkan posisi yang lebih tinggi: Malaysia pada peringkat 15 dan Thailand pada peringkat 26. Penurunan peringkat ini bisa memengaruhi sentimen investor, terutama di sektor yang sensitif terhadap infrastruktur energi.
Pemerintah berencana menggunakan temuan tim debottlenecking untuk merumuskan langkah perbaikan yang konkret. Upaya ini mencakup evaluasi regulasi, percepatan proyek infrastruktur energi, dan peningkatan koordinasi antar-instansi agar penyiapan energi menjadi lebih andal bagi investor.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Grab Luncurkan Group Ride: Berbagi Ongkos hingga 50%
Grab meluncurkan fitur Group Ride sejak April 2026 untuk atur perjalanan bersama lewat satu pemesanan, denga...
Mobilitas Kereta Api Sumatra Capai 11,34 Juta Penumpang
KAI mencatat 11.342.350 pergerakan penumpang di Sumatra (Jan–Sep 2026), naik 12,02% dibandingkan 2025.
Kemenko Hilirisasi dan Energi Diharap Percepat Transisi Energi
Imaduddin Abdullah menilai pembentukan Kemenko Hilirisasi dan Energi percepat transisi energi, hilirisasi, d...
Hilirisasi Nikel Dorong PNBP Capai Rp21 Triliun
Hilirisasi nikel mendorong ekspor USD6,54 miliar dan PNBP mencapai Rp21 triliun hingga 31 Agustus 2026, namu...
Harga Emas Pekan Depan Diprediksi Fluktuatif, Waspada Saat Beli
Harga emas dunia diperkirakan berfluktuasi tajam pekan depan karena pengaruh indeks dolar AS dan harga minya...
Indonesia Kuasai 0,9% Pasar Ekspor Bambu, Kemenperin Dorong Penguatan Hulu
Kemenperin sebut Indonesia kuasai 0,9% pasar ekspor bambu global; AKB 2026 digelar untuk perkuat pasokan dan...