Akhir Pekan: Rupiah Melemah ke Rp17.804 di Tengah Penguatan Dolar
Rupiah ditutup melemah 0,06 persen atau 10 poin menjadi Rp17.804 per dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat, 19 Juni 2026. Pelemahan terjadi seiring penguatan dolar AS, ketidakpastian geopolitik terkait pembatalan penandatanganan kesepakatan AS-Iran, serta sorotan lembaga indeks global terhadap pasar modal Indonesia.
Penutupan pasar dan angka
Data Bloomberg menunjukkan rupiah berakhir pada level Rp17.804 per USD. Pergerakan ini mencerminkan dominasi dolar AS di akhir pekan, meski sentimen pasar sempat membaik pada awalnya karena kabar perundingan damai.
Batalnya penandatanganan AS-Iran
Sentimen positif sempat muncul setelah kabar pihak Washington dan Teheran mencapai kesepakatan sementara. Namun harapan mereda ketika kabar beredar bahwa penandatanganan kesepakatan permanen di Swiss dibatalkan.
Gedung Putih menyatakan wakil presiden AS tidak akan berangkat ke Swiss, dan kantor berita lokal Iran belum mengonfirmasi keberangkatan delegasi. Ketidakpastian ini kembali mendorong permintaan terhadap aset aman seperti dolar.
Pengaruh kebijakan The Fed
Pelaku pasar juga mencermati sinyal dari Federal Reserve yang membuka peluang kenaikan suku bunga sekali lagi tahun ini. Ekspektasi biaya pinjaman yang tetap tinggi menahan prospek pelemahan dolar lebih lanjut.
Menurut pengamat pasar uang, investor lebih fokus pada kemungkinan The Fed mengetatkan kebijakan jika tekanan harga berlanjut.
"Sementara itu, ekspektasi inflasi yang lebih rendah biasanya akan mendukung kebijakan moneter yang lebih longgar. Namun investor malah fokus pada potensi The Fed memperketat kebijakan lebih lanjut jika tekanan harga terus berlanjut," ujar Ibrahim Assuaibi.
Catatan MSCI terhadap pasar Indonesia
Di dalam negeri, lembaga penyedia indeks global MSCI merevisi penilaian untuk kriteria Arus Informasi dari tanda "+" menjadi "-". Penurunan tersebut mencerminkan kekhawatiran soal transparansi data kepemilikan saham dan aktivitas pasar.
Ibrahim menilai penurunan peringkat ini dapat mengganggu pembentukan harga yang wajar dan membatasi kemampuan investor global mengukur free float perusahaan tercatat. MSCI juga menyoroti keterbatasan di pasar valuta asing Indonesia.
"MSCI menilai tingkat liberalisasi valuta asing di Indonesia masih sangat terbatas," kata Ibrahim.
Dampak dan prospek
Meskipun ada koreksi pada beberapa kriteria, MSCI masih mempertahankan posisi Indonesia sebagai negara berkembang atau Emerging Market. Hal ini memberi harapan bahwa aliran modal asing dapat kembali masuk ke pasar keuangan Indonesia.
Ke depan, pergerakan rupiah akan tetap dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik global, sinyal kebijakan The Fed, dan langkah-langkah yang diambil otoritas domestik untuk memperbaiki transparansi pasar modal serta liberalisasi valuta asing.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pengguna Whoosh Hemat Rp1,5 Juta dengan FWC JaBan Gold
KCIC luncurkan FWC JaBan Gold: kartu langganan Rp2 juta untuk 10 perjalanan, hemat hingga Rp1,5 juta dibandi...
Menaker: Kesenjangan Kompetensi Lulusan Harus Segera Diatasi
Menaker Yassierli minta penguatan pendidikan STEM dan kolaborasi untuk atasi mismatch kompetensi lulusan den...
Cadangan Devisa Indonesia Turun Jadi USD145,3 Miliar Juli 2026
Cadangan devisa turun ke USD145,3 miliar per akhir Juli 2026 akibat penerbitan global bond dan intervensi st...
OJK: Efek Berbasis Keberlanjutan Rp85,15 T per Juni 2026
OJK mencatat efek berbasis keberlanjutan mencapai Rp85,15 triliun hingga Juni 2026; aset reksa dana ESG Rp8,...
Harga Emas Antam Terkoreksi Rp29.000 per Gram, Simak Daftarnya
Harga emas Antam turun Rp29.000 per gram pada Jumat, 7 Agustus 2026; 1 gram dihargai Rp2.650.000 dan buyback...
Manufaktur Lampaui Ekonomi, SBIN Percepat Industrialisasi
Industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32% pada Q2 2026 dan melampaui ekonomi nasional; Menperin: SBIN percep...