Rupiah Melemah ke Rp18.104, Sentimen Pasar Kian Rawan
Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada pembukaan perdagangan Rabu, 29 Juli 2026, dan dibuka melemah 0,12 persen atau 21 poin ke posisi Rp18.104 per dolar AS. Tekanan datang dari kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang membuat pasar berhati-hati.
Ringkasan penyebab pelemahan
Analis pasar uang Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, menyebut ada paling tidak tiga faktor utama yang mendorong pelemahan rupiah. Faktor tersebut termasuk prospek perdamaian AS-Iran, penurunan indeks keyakinan konsumen di AS, serta sentimen negatif domestik pasca pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia.
Faktor eksternal: keyakinan konsumen AS dan ketegangan Timur Tengah
Data pasar menunjukkan Indeks Consumer Confidence Amerika Serikat turun menjadi 90,8 pada Juli 2026 dari 92,2 pada Juni. Penurunan ini mengindikasikan konsumsi dan ekspektasi ekonomi yang melemah.
“Begitu pula penilaian terhadap prospek pendapatan rumah tangga dan lapangan kerja,”
kata Kepala Ekonom Conference Board, Dana M. Peterson, menggambarkan berkurangnya optimisme konsumen AS. Selain itu, meredanya ketegangan antara AS dan Iran setelah ada pembicaraan diplomatik membuat harga minyak mentah turun, menekan pasar komoditas global. Harga minyak West Texas Intermediate turun sekitar 4,1 persen menjadi USD79,26 per barel.
Faktor domestik: kekhawatiran atas independensi BI
Di dalam negeri, pasar bereaksi negatif terhadap pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo. Kekhawatiran berfokus pada kesinambungan kebijakan moneter dan independensi lembaga pengawas moneter.
“Pasar masih mengkhawatirkan soal independensi BI setelah mundurnya Perry Warjiyo,”
kata Fikri C. Permana, menjelaskan reaksi awal pelaku pasar.
Performa rupiah dan prospek jangka pendek
Indeks dolar AS tercatat berada pada level 101,39, memperkuat mata uang AS terhadap mayoritas mata uang lainnya. Analis Mirae Asset Sekuritas mencatat rupiah terdepresiasi sekitar 1 persen dalam sebulan terakhir.
“Sedangkan dari Januari hingga Juli 2026, rupiah mengalami pelemahan sebesar 8,5 persen,”
ujar analis pasar uang Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa, yang menilai pelemahan ini membuat rupiah menjadi salah satu mata uang berkinerja terburuk di kawasan.
Apa yang dinantikan pasar
Pelaku pasar kini menanti hasil rapat The Fed yang akan menentukan arah suku bunga AS ke depan. Ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap tinggi untuk jangka lebih lama berpotensi menambah tekanan pada aset berisiko termasuk rupiah.
Ke depan, volatilitas rupiah kemungkinan masih tinggi hingga ada kejelasan kebijakan moneter domestik dan perkembangan geopolitik internasional. Investor akan terus memantau pernyataan otoritas BI serta data ekonomi global yang memengaruhi aliran modal.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Rupiah Tembus Rp18.000, BI Optimalkan Bauran Kebijakan Moneter
BI memperkuat bauran kebijakan moneter setelah rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS, dengan mengoptimalkan...
Mulai 17 Oktober 2026: Kosmetik, Obat dan Produk Lain Wajib Bersertifikat Halal
Sejak 17 Oktober 2026, kosmetik, obat, dan berbagai produk lain wajib memiliki sertifikat halal sebagai bagi...
UMKM Jadi Penopang Utama Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
UMKM menjadi penopang utama ekonomi Indonesia, menyumbang 60% PDB dan menyerap 97% tenaga kerja; tantanganny...
DPMK Kutai Barat Hentikan Penyaluran Pinjaman UEM Sejak 2017
DPMK Kutai Barat menghentikan penyaluran pinjaman Program UEM sejak 2017 karena dinilai tumpang tindih denga...
Kios di Engkuni Pasek: Bukti Keberhasilan Program UEM Kubar
Victoria Market di Engkuni Pasek jadi bukti keberhasilan Program UEM DPMK Kubar; pemilik naik dari kios ke t...
Pinjaman UKM Kubar Beralih ke UPT Dana Bergulir
Pelayanan pinjaman UKM di Kutai Barat dipindahkan ke UPT Dana Bergulir di bawah Disdagkop; plafon pinjaman h...