Indonesia Usulkan LMK untuk Kumpulkan Royalti AI
Jakarta. Pemerintah Indonesia sedang mengkaji pembentukan lembaga manajemen kolektif (LMK) yang akan mengumpulkan royalti dari perusahaan kecerdasan buatan (AI) yang menggunakan karya berhak cipta untuk melatih sistemnya. Rencana ini disampaikan oleh Hermansyah Siregar, Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM, dalam rapat dengan Komisi XIII DPR di Jakarta.
Latar belakang pemakaian data oleh AI
Hermansyah menjelaskan bahwa perusahaan AI melatih modelnya dengan mengumpulkan sejumlah besar konten dari internet, buku, musik, video, dan karya kreatif lain. Penggunaan karya tersebut tanpa izin, menurutnya, harus mendapat otorisasi dari pemegang hak cipta.
Untuk mengilustrasikan tantangan praktik saat ini, Hermansyah menyatakan bahwa meminta izin satu per satu ke jutaan pencipta akan sulit dilaksanakan karena perkembangan AI sangat cepat.
"Jika perusahaan harus meminta izin secara individual dari setiap pemegang hak cipta, itu akan sulit karena dinamika perkembangan AI bergerak sangat cepat."
Skema LMK dan mekanisme pembayaran royalti
Di bawah skema yang diusulkan, perusahaan AI tidak lagi menegosiasikan izin langsung dengan tiap pencipta. Sebagai gantinya, perusahaan akan membayar royalti kepada satu collective management organization (LMK), yang kemudian mendistribusikan pembayaran kepada para kreator.
"LMK nantinya akan menyalurkan royalti kepada para pencipta," kata Hermansyah.
Model ini dirancang untuk menyederhanakan proses administrasi dan memastikan bahwa kreator menerima kompensasi ketika karya mereka dipakai di luar penggunaan yang dibebaskan.
Pengecualian dan ruang lingkup izin
Hermansyah menyebutkan bahwa ada kemungkinan pengecualian untuk tujuan pendidikan, kesehatan, dan riset. Namun, penggunaan komersial atau yang berada di luar kategori tersebut tetap memerlukan lisensi dan pembayaran royalti.
"Misalnya, lagu, karya seni, dan konten kreatif lainnya harus dilisensikan, dan pencipta harus menerima royalti," ujarnya setelah pertemuan parlemen.
Kajian internasional dan langkah selanjutnya
Pemerintah akan memasukkan proposal ini dalam revisi Undang-Undang Hak Cipta 2014 yang sedang dikaji. Indonesia juga melakukan studi perbandingan terhadap praktik di Amerika Serikat, Uni Eropa, dan China untuk menyusun kerangka yang lebih matang.
"Karena ini isu baru, kami perlu studi komparatif dari negara-negara yang lebih matang menangani masalah ini," kata Hermansyah.
Pengaturan LMK untuk royalti AI bertujuan menjembatani perlindungan hak cipta dan kebutuhan pengembangan teknologi, sekaligus memastikan pencipta memperoleh kompensasi yang adil di era pemanfaatan data skala besar.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
PPKS dan BPDP Perkenalkan Kelapa Sawit ke Siswa SD di Medan
PPKS dan BPDP mengajak siswa SD di Medan belajar kelapa sawit lewat kunjungan edukatif dan praktik di fasili...
Tahun Baru Mars 2026: Planet Merah Mulai Putaran Baru
Planet Mars resmi memasuki tahun baru pada 30 Sep 2026; satu tahun Mars setara sekitar 687 hari Bumi dan ter...
Crew-13 Meluncur ke ISS, Empat Astronot Gabung Ekspedisi 75
NASA dan SpaceX meluncurkan Crew-13 ke ISS pada 1 Oktober 2026; empat astronaut dijadwalkan bergabung dengan...
Teleskop Roman Tangkap Cahaya Pertama dari Awan Magellan Besar
Nancy Grace Roman lulus uji pandu presisi dan Coronagraph-nya menangkap cahaya pertama dari Awan Magellan Be...
Kemkomdigi Perketat Pengawasan Ruang Digital, Takedown Konten Krusial 4 Jam
Kemkomdigi memperketat pengawasan ruang digital dengan takedown konten krusial maksimal 4 jam dan mengajak p...
Keuntungan dan Risiko Investasi Emas, Harga Terbaru
Harga emas Pegadaian terkoreksi 29 Sept 2026; emas tetap jadi pilihan lindung nilai namun punya risiko seper...