Robot dari Limbah Plastik, Siswa SMAN 28 Raih Prestasi Internasional
Dryantama Sucipto dan Pande Nyoman, siswa SMAN 28 Jakarta, mengembangkan robot dari limbah plastik dan meraih prestasi internasional pada 3 Agustus 2026 di SMAN 28 Jakarta. Inovasi ini lahir untuk memangkas biaya dan menunjukkan bahwa bahan bekas bisa bernilai teknologi.
Awal gagasan dan proses pembelajaran
Gagasan memanfaatkan limbah bermula saat guru Informatika dan Coding, Muhammad Arif Harahap, mengajak siswa memikirkan alternatif bahan murah untuk robotika. Diskusi lanjut melibatkan pegiat daur ulang Bob Novandy, yang menantang siswa mengolah botol plastik menjadi mobil mainan.
"Dalam pembicaraan dengan Pak Bob, yakni bagaimana kita memanfaatkan sampah anorganik ini menjadi sebuah mainan dan bagian dari robotik. Setelah terpikir, ikutlah tim dalam suatu event dengan memanfaatkan barang-barang bekas dan dibaurkan dengan teknologi robotik, sehingga bermanfaat," kata Arif.
"Bapak bisa membuat daur ulang seperti ini, coba kalian bisa sampai sejauh mana," ujar Pak Bob kepada Pande dan Dryantama.
Dengan arahan guru, mereka mengubah botol plastik menjadi mobil mainan yang dapat dikendalikan jarak jauh. Dari situ, mereka bereksperimen dengan rangka pipa PVC bekas yang terbukti kuat untuk kerangka robot.
Kompetisi dan pencapaian
Setelah uji coba di Surabaya dan Bandung, tim melaju ke kompetisi robotik di Malaysia. Robot berbahan PVC yang dikembangkan berhasil meraih juara kedua di ajang bergengsi tersebut.
"Pada saat perlombaan, para juri melihat limbah memiliki nilai lebih jika diolah menjadi teknologi. Juri juga memberikan penilaian tambahan terhadap inovasi berbasis daur ulang," kata salah satu anggota tim.
Inovasi lanjutan dan tantangan
Keberhasilan itu mendorong tim untuk merancang proyek baru: robot pembuat pestisida alami menggunakan metode pirolisis. Pengembangan berjalan meski menghadapi keterbatasan pengetahuan dan biaya.
"Kami banyak belajar melalui YouTube, GitHub, dan kecerdasan buatan atau AI. Teknologi itu membantu kami memahami berbagai konsep dengan lebih cepat," kata Dryantama.
"AI membantu mempercepat proses belajar, tetapi kami tetap harus memahami konsep dasarnya. Dengan begitu, kami bisa mengembangkan teknologi sesuai kebutuhan," tambahnya.
Implikasi dan harapan
Pande dan Dryantama berharap lebih banyak pelajar berani memanfaatkan limbah sebagai bahan inovasi. Mereka menekankan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
Inisiatif ini menunjukkan model pembelajaran berbasis sumber daya lokal: memadukan kreativitas, pengajaran guru, dukungan pegiat daur ulang, dan sumber belajar daring untuk menciptakan teknologi yang terjangkau dan berkelanjutan.
Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.
Berita Terkait
SWITCH 2026: Singapura Dorong Perusahaan Siapkan Pekerja Hadapi AI
SWITCH 2026 dibuka di Marina Bay Sands; pemerintah Singapura mengimbau perusahaan menyiapkan pekerja menghad...
ITSEC Asia Gandeng SGCI Bawa Keamanan Siber ke Pantai Gading
ITSEC Asia menggandeng SGCI menyediakan layanan keamanan siber berkelanjutan bagi institusi publik dan infra...
Bali Tech Week 2026 Targetkan 5.000 Peserta untuk Tarik Investasi Digital
Bali Tech Week 2026 digelar 19–23 Okt di Sanur, Bali, menargetkan 5.000 peserta dari 37 negara untuk menarik...
Perusahaan RI Risau Kehilangan Manfaat AI jika Hanya Jalankan Pilot
Perusahaan Indonesia berisiko kehilangan manfaat produktivitas AI jika hanya menjalankan pilot; butuh pelati...
Adopsi AI Melonjak, Ancaman Kebocoran dan Kedaulatan Data
Adopsi AI di Indonesia meningkat pesat, namun risiko kebocoran data dan kedaulatan informasi menguat akibat...
Gerhana Matahari Total 2027: Siang Terbenam 6 Menit di Luxor
Gerhana Matahari Total 2 Agustus 2027 akan menggelapkan siang hingga 6 menit di beberapa wilayah daratan, te...