NASA Percepat Misi Bulan dan Mars, Rombak Struktur Organisasi
Administrator NASA Jared Isaacman mengumumkan perubahan kebijakan dan struktur organisasi pada 24 Mei 2026 untuk mempercepat misi ke Bulan dan Mars. Pengumuman itu menyusul keberhasilan misi Artemis II dan menetapkan target pendaratan manusia kembali di Bulan serta pembangunan keberadaan manusia yang permanen di sana.
Perubahan struktur dan tujuan misi
Untuk membuat lembaga lebih berorientasi pada misi, NASA menggabungkan divisi eksplorasi dan operasi antariksa menjadi Human Spaceflight Mission Directorate (HSMD). Langkah ini dimaksudkan untuk menyederhanakan pengambilan keputusan dan mempercepat pelaksanaan misi berawak.
Sementara itu, unit riset aeronautika dan teknologi ruang angkasa disatukan menjadi Research and Technology Mission Directorate (RTMD). Divisi baru akan fokus pada pengembangan teknologi terobosan, termasuk sistem propulsi dan komunikasi yang diperlukan untuk misi jangka panjang.
Teknologi kunci dan energi nuklir
NASA menegaskan akan mendorong penggunaan energi nuklir di luar angkasa melalui Space Reactor Office. Teknologi ini dinilai penting untuk menopang operasi jangka panjang di permukaan Bulan dan rute menuju Mars.
Penggunaan energi nuklir diharapkan mendukung daya listrik berkelanjutan, sistem pemrosesan, dan propulsi listrik yang lebih efisien untuk misi jauh. Penerapan teknologi ini akan dilakukan bertahap dan melalui kolaborasi internasional serta mitra komersial.
Dampak pada program, sumber daya, dan tenaga kerja
Meski melakukan restrukturisasi besar, NASA menegaskan tidak akan ada pemutusan hubungan kerja, penghentian program, maupun penutupan fasilitas. Alih-alih, perubahan ini dimaksudkan untuk mengoptimalkan sumber daya dan memperkuat kompetensi inti lembaga.
NASA juga mengumumkan akan memperluas kerja sama dengan sektor komersial dan negara lain. Sinergi ini diharapkan mempercepat pengembangan infrastruktur antariksa serta memperkuat rantai pasok dan kemampuan teknis.
Implikasi dan langkah ke depan
Perubahan organisasi ini menandai fase baru dalam Program Artemis dan strategi menuju Mars. Fokus jangka pendek adalah memastikan pendaratan manusia yang aman di Bulan dan pembangunan proyek Moon Base sebagai landasan operasi lebih lanjut.
Ke depan, NASA akan memprioritaskan integrasi teknologi baru, pengujian sistem energi nuklir, serta kolaborasi internasional untuk mengurangi risiko dan biaya. Langkah-langkah tersebut memberi arah yang lebih jelas bagi misi antariksa berawak selama dekade mendatang.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Juno Ungkap Panas Bawah Permukaan Io, Bulan Vulkanik Jupiter
Juno mengukur pemanasan beberapa meter di bawah permukaan Io saat lintasan Des 2023 dan Feb 2024, mengungkap...
Io, Bulan Jupiter, Terus Aktif Secara Vulkanik
Juno mendeteksi sumber panas di bawah permukaan Io, terutama di Zal Montes Patera dan ekuator, menunjukkan a...
Waspada e-Tilang Palsu: Ciri Notifikasi ETLE Resmi
Modus penipuan berkedok notifikasi ETLE marak; kenali ciri notifikasi resmi agar terhindar dari pencurian da...
Akademisi UI Kembangkan Reaktor Pirolisis AI untuk Limbah Peternakan
Akademisi UI ciptakan reaktor pirolisis AI yang ubah limbah domba jadi biochar berkualitas, berpotensi untuk...
UPNVJ Perkuat Mutu dengan Akreditasi Unggul dan Internasional
UPNVJ meningkatkan kualitas lewat akreditasi unggul dan internasional; pendaftar 2026 melebihi 22 ribu, 18 p...
ABU Mendesak Perlindungan Hak Cipta di Era AI Generatif
ABU mendesak kepastian hukum dan kompensasi bagi kreator saat AI generatif makin dipakai di penyiaran, kata...