HKTI Gelar Rembug Peternak, Sepakati Harga Ayam dan Telur
Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menginisiasi Rembug Peternak di Jakarta pada Senin, 6 Juli 2026 untuk mencari solusi sektor perunggasan nasional. Forum ini mempertemukan pemerintah, asosiasi peternak, dan pelaku usaha ayam serta telur untuk membahas harga, pasokan, pakan, distribusi, dan efisiensi rantai pasok.
Tujuan forum dan peserta
Rembug Peternak digelar sebagai ruang dialog langsung antara pemangku kepentingan. Tujuannya menjaga keseimbangan kesejahteraan peternak dan perlindungan konsumen agar usaha perunggasan berkelanjutan.
Peserta terdiri atas perwakilan kementerian, asosiasi peternak, produsen pakan, distributor, dan pelaku usaha pengolahan serta perdagangan.
Kesepakatan harga
Salah satu keputusan penting adalah penetapan acuan harga di tingkat peternak. Forum mendorong penetapan harga ayam hidup (live bird) dan telur agar usaha peternak tetap layak secara ekonomi.
| Produk | Harga di tingkat peternak | Mulai berlaku |
|---|---|---|
| Ayam hidup (live bird) | Rp19.500/kg | 15 Juli 2026 |
| Telur ayam | Rp24.000/kg | — |
"Peternaknya harus untung, kemudian konsumennya juga tidak boleh dirugikan. Ayam dan telur itu tidak bisa terlalu mahal, tapi juga tidak boleh terlalu murah,"
— Wakil Menteri Pertanian sekaligus Ketua Umum HKTI, Sudaryono.
Tekanan harga: pasokan dan permintaan
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Agung Suganda, menyoroti dinamika pasokan dan permintaan sebagai pemicu perubahan harga. Ia menjelaskan kapan suplai melimpah tetapi permintaan turun, harga di tingkat peternak mengalami tekanan.
"Pada saat suplai melimpah, demand turun, tentu harganya ikut turun. Ini yang terus kita lakukan upaya pendek, menengah, maupun panjang,"
Agung juga menekankan pentingnya menjaga harga di atas Harga Pokok Produksi (HPP) agar keberlanjutan usaha dan produksi tidak terganggu.
Peluang pasar: MBG dan ekspor
Forum melihat Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai pasar potensial karena membutuhkan pasokan ayam dan telur dalam jumlah besar. Pemerintah dan pelaku usaha diminta menyiapkan produksi yang responsif terhadap permintaan kalender pendidikan.
Selain pasar domestik, HKTI dan pemerintah terus menjajaki peluang ekspor. Pasar Timur Tengah dan China disebut sebagai target untuk memperluas penyerapan produk unggas Indonesia.
Langkah selanjutnya
HKTI memastikan Rembug Peternak akan menjadi forum berkala untuk evaluasi dan penyusunan kebijakan. Upaya jangka pendek, menengah, dan panjang difokuskan pada efisiensi produksi dan distribusi agar selisih antara HPP dan harga akhir tidak terlalu besar.
Langkah ini diharapkan memperkuat keberlanjutan usaha peternakan dan menjaga kesejahteraan peternak tanpa mengorbankan kepentingan konsumen.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Airlangga Sebut Keunggulan Maung MV3 Garuda Limousine
Airlangga nilai Maung MV3 Garuda Limousine nyaman dengan kursi reclining, interior mewah, dan teknologi seta...
Hari Cerebral Palsy Sedunia 2026: Tema 'Unique and United' dan Sejarahnya
Hari Cerebral Palsy Sedunia diperingati 6 Oktober 2026 dengan tema Unique and United untuk dorong inklusi da...
MenPPPA Dorong Perlindungan Perempuan dalam RUU Ketenagakerjaan
MenPPPA Arifah Fauzi dorong penguatan perlindungan perempuan dan anak dalam RUU Ketenagakerjaan untuk cegah...
Pendaftar TKA 2026 Naik Hampir 10%, Capai 4,2 Juta
Pendaftar TKA 2026 naik hampir 10% menjadi 4,2 juta; 3,86 juta menyelesaikan pendaftaran. Tes digelar 26 Okt...
Hari ke-23 Pencarian KM Virgo Nihil, 53 Korban Masih Hilang
Operasi SAR hari ke-23 pencarian KM Virgo di Laut Jawa nihil; 190 dari 243 ditemukan, 53 masih hilang, salva...
DPR Soroti Serapan Tenaga Kerja Lokal di Karawang
Komisi VII DPR soroti minimnya serapan tenaga kerja lokal di Kawasan Industri Mitra Karawang; dorong kewajib...