Kemenkes Dorong Reformasi JKN untuk Tingkatkan Layanan
Kementerian Kesehatan mendorong reformasi Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk meningkatkan kualitas layanan peserta. Pernyataan itu disampaikan oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Sunarto, saat konferensi pers di Kantor Kemenko PM, Jakarta Pusat, Selasa, 15 September 2026. Reformasi dianggap perlu karena JKN telah berjalan sejak 2014 dan memerlukan pembaruan agar layanan rawat inap dan rujukan lebih baik.
Fokus utama: penerapan KRIS dan pengaturan fasilitas
Salah satu langkah yang disiapkan pemerintah adalah penerapan Kelas Rawat Inap Standar (KRIS). Kebijakan ini bertujuan mengatur jumlah tempat tidur dan standar fasilitas rawat inap untuk meningkatkan mutu perawatan peserta JKN di rumah sakit.
“Kita akan melakukan reformasi JKN dengan berbagai perbaikan, karena program ini telah berjalan cukup lama sejak 2014. Hingga 2026, JKN sudah cukup lama berjalan dan harus mendapat sentuhan perbaikan agar layanan semakin baik,”
Sunarto menekankan pengaturan fasilitas dan kapasitas ruang rawat sebagai langkah awal untuk memastikan peserta memperoleh pelayanan yang layak selama perawatan.
Perbaikan sistem rujukan dan penyesuaian tarif
Selain KRIS, reformasi mencakup perubahan pada mekanisme rujukan dan struktur tarif pelayanan kesehatan. Pemerintah merencanakan penerapan rujukan berbasis kompetensi sehingga pasien dirujuk sesuai kebutuhan klinis.
“Dalam sistem rujukan, nantinya akan diterapkan rujukan berbasis kompetensi sesuai kebutuhan pelayanan kesehatan peserta JKN. Untuk tarif, kita akan menyesuaikannya dengan pola layanan dan karakteristik penyakit tertentu,”
Penyesuaian tarif dimaksudkan agar fasilitas kesehatan menerima kompensasi yang lebih sesuai dengan pola penanganan penyakit tertentu, sehingga layanan dapat lebih efisien dan berkelanjutan.
Dukungan pemangku kepentingan
Kementerian Kesehatan mengajak berbagai pihak untuk mengawal proses reformasi. Dukungan serikat pekerja, Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN), dan BPJS Kesehatan dinilai penting untuk memastikan kebijakan berjalan efektif dan berpihak pada peningkatan layanan peserta.
“Pemerintah jelas akan mendengar masukan dari teman-teman semua. Akan dilakukan perbaikan jika masukan itu membawa regulasi ke arah yang jauh lebih baik,”
Sunarto berharap seluruh pemangku kepentingan aktif memberi masukan dan mengawal pelaksanaan kebijakan agar reformasi berlangsung berkelanjutan.
Implikasi dan langkah ke depan
Reformasi ini diarahkan untuk memperbaiki mutu layanan rawat inap, memperjelas jalur rujukan, dan menyesuaikan tarif agar lebih adil bagi fasilitas kesehatan. Seluruh proses akan membutuhkan koordinasi antarlembaga dan pemantauan agar tujuan peningkatan layanan peserta JKN tercapai.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Siapkan Pusat Rehabilitasi untuk Warga Binaan Narkotika
Pemerintah siapkan pusat rehabilitasi dan reedukasi bagi warga binaan pengguna narkotika untuk atasi overkap...
BMKG Waspadai Hujan Lebat, Petir, Angin Kencang 5-8 Okt
BMKG keluarkan peringatan dini hujan lebat, petir, dan angin kencang pada 5-8 Oktober 2026; waspadai empat w...
Prabowo Pimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap
Presiden Prabowo memimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap, 5 Oktober 2026; melibatkan 3.378 personel...
HUT TNI ke-81: DPR Dorong Modernisasi Hadapi Perang Modern
DPR mendesak modernisasi alutsista dan peningkatan pelatihan TNI menjelang HUT ke-81, seiring anggaran 2027...
Dua Induk Badak Sumatera Bunting di Way Kambas, Harapan Konservasi
Dua induk badak sumatera, Ratu dan Delilah, dinyatakan bunting di Suaka Rhino Sumatra Way Kambas; pemantauan...
Prabowo Minta Bakom Gunakan Bahasa Sederhana dan Dengarkan Rakyat
Presiden Prabowo minta Bakom gunakan bahasa sederhana, jelaskan alasan kebijakan, dan dengarkan masukan masy...