Wamen PPPA Dorong Pemanfaatan Potensi Budaya dan Pangan Lokal NTT
Wakil Menteri PPPA Veronica Tan mendorong pemanfaatan potensi budaya dan pangan lokal Nusa Tenggara Timur (NTT) sebagai sumber ekonomi berkelanjutan. Pernyataan itu disampaikan saat peresmian pameran Weaving Wonders: The Spirit of NTT di Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta Pusat, Sabtu, 13 Juni 2026. Ia menilai pengembangan rempah, bahan pangan, bambu, dan tenun berpotensi mendukung ketahanan pangan serta meningkatkan nilai ekonomi masyarakat.
Keragaman pangan lokal sebagai alternatif
Veronica Tan menyoroti bahwa masyarakat NTT tidak hanya bergantung pada beras. Beberapa daerah mempertahankan jagung bose dan sorgum sebagai makanan pokok yang bergizi tinggi. Menurutnya, rempah-rempah dan bahan pangan lokal itu bisa dikembangkan menjadi komoditas masa depan yang mendukung ketahanan pangan dan ekonomi lokal.
"Melalui kegiatan ini, kita ingin menunjukkan bahwa budaya pangan Nusa Tenggara Timur sangat kaya dan beragam. Masyarakat tidak hanya mengonsumsi beras, tetapi juga jagung bose dan sorgum yang bernilai gizi tinggi,"
Potensi bambu untuk produk ramah lingkungan
Selain pangan, Veronica menekankan pemanfaatan bambu yang dikelola kelompok perempuan. Bambu dinilai sebagai bahan bernilai tambah yang ramah lingkungan. Ia mengatakan seluruh bagian bambu dapat dimanfaatkan, termasuk batang sebagai bahan bangunan dan daun untuk diolah menjadi biochar.
"Bambu memiliki potensi besar karena dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan dan mendukung konsep pembangunan ramah lingkungan modern. Seluruh bagiannya bernilai ekonomi, mulai batang hingga daun yang dapat diolah menjadi produk bermanfaat,"
Peran perempuan penenun dalam ekonomi lokal
Pengamat arsitektur dan pelestari budaya, Yori Antar, menyoroti peran perempuan penenun yang strategis. Mereka tidak hanya menopang ekonomi keluarga, tetapi juga menjaga tradisi kain tenun daerah. Yori menilai perlu ada apresiasi dan dukungan agar tenun menjadi produk unggulan nasional.
"Para ibu penenun merupakan tulang punggung ekonomi keluarga sekaligus penjaga warisan budaya yang sangat berharga. Karena itu, kita perlu memberikan apresiasi lebih besar terhadap kain tenun sebagai karya budaya bangsa,"
Langkah penguatan dan kolaborasi
Veronica mengajak kolaborasi antara masyarakat, pelaku usaha, dan pemerintah untuk menguatkan pemanfaatan sumber daya lokal. Regulasi yang tepat dan dukungan pasar diperlukan agar produk berbasis potensi daerah dapat bersaing. Ia berharap bahan baku NTT akan menjadi bagian penting pembangunan nasional di sektor pangan, desain bangunan, dan produk ramah lingkungan.
Dengan penataan yang baik, sumber daya budaya dan pangan NTT memiliki peluang menjadi mesin ekonomi berkelanjutan. Dukungan kebijakan dan penguatan kapasitas lokal menjadi kunci penerapan skala lebih luas.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Merah Putih Menghias Kampung: Tradisi Gotong Royong Agustusan
Warga kampung memasang bendera, umbul-umbul, dan gapura menjelang HUT RI melalui gotong royong untuk menyema...
Kampung Tugu: Warisan Portugis yang Bertahan di Jakarta Utara
Kampung Tugu di Cilincing mempertahankan warisan Portugis sejak abad ke-17 lewat musik keroncong, bahasa kre...
Rengasdengklok: Golongan Tua vs Muda yang Mempercepat Proklamasi
Peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945 menegaskan perbedaan antara golongan tua dan muda yang akhirny...
6 Agustus: Hiroshima, Apresiasi Petani, Sailor Moon, dan Hari Balon
6 Agustus 2026 menampilkan empat peringatan: Hiroshima, Hari Apresiasi Petani, Sailor Moon Day, dan Hari Bal...
Bu Dar Mortir, Patriot Perempuan Penopang Pejuang Surabaya 1945
Darijah "Bu Dar Mortir" mengelola dapur umum di Jalan Pacar Surabaya untuk mendukung pejuang saat Pertempura...
MLB Perkuat Pelestarian Bahasa Lampung lewat Kamus dan Kursus
MLB memperkuat pelestarian Bahasa Lampung dengan kamus dialek, kursus daring, dan program budaya usai penguk...