95% Penenun di NTT Mayoritas Perempuan, Menopang Ekonomi Keluarga
Ketua Tim Penggerak PKK Nusa Tenggara Timur, Mindriyati Astiningsih, menegaskan sekitar 95 persen pelaku tenun di NTT adalah perempuan yang berperan sebagai penopang ekonomi keluarga. Pernyataan itu disampaikan saat peresmian pameran Weaving Wonders: The Spirit of NTT di Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta Pusat, Sabtu, 13 Juni 2026.
Perempuan sebagai penopang ekonomi keluarga
Mindriyati mengatakan perempuan tidak hanya bekerja di kebun dan ladang, tetapi juga mengurus rumah tangga. Setelah menyelesaikan tugas domestik, mereka masih menenun untuk menambah penghasilan keluarga.
Peran ini semakin penting ketika cuaca buruk mengganggu kegiatan pertanian. Dalam situasi tersebut, hasil tenun kerap menjadi sumber pendapatan utama keluarga.
"Tenun itu 95 persen adalah perempuan yang terlibat di dalamnya. Dan perempuan juga menjadi tulang punggung utama karena di hampir semua tempat itu,"
Kesenjangan akses dan kebutuhan pemberdayaan
Meski kontribusinya besar, Mindriyati menyoroti sejumlah kesenjangan yang masih dihadapi para perempuan penenun. Akses terhadap pasar, pembiayaan, dan pelatihan belum selalu seimbang dengan beban kerja mereka.
Ia menyatakan bahwa kesejahteraan keluarga sangat tergantung pada kondisi perempuan. Jika perempuan tidak memperoleh dukungan memadai, dampaknya akan dirasakan oleh suami dan anak-anak.
"Ketika musim tidak baik, tidak memungkinkan untuk bercocok tanam. Maka yang menjadi tulang punggung adalah ibu-ibu, jadi sangat luar biasa peran mereka dalam menegakkan ekonomi keluarga,"
Oleh karena itu, pemberdayaan perempuan disebut sebagai langkah penting untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan. Mindriyati menekankan perlunya membuka akses dan kesempatan secara setara.
"Perempuan punya hak untuk berpartisipasi dan mempunyai kesempatan untuk bisa menikmati berbagai akses yang selama ini dibatasi. Jadi mari bersama-sama untuk memberdayakan perempuan dahulu,"
Potensi pariwisata berbasis masyarakat
Pelestari arsitektur Nusantara, Yori Antar, menambahkan NTT memiliki potensi besar mengembangkan pariwisata berbasis masyarakat. Ia menyebut keberhasilan pelestarian Desa Adat Wae Rebo sebagai contoh manfaat ekonomi yang bisa dinikmati warga setempat.
Menurut Yori, model yang menggabungkan pelestarian budaya, kewirausahaan, dan gotong royong dapat membuat masyarakat menjadi tuan rumah yang memperoleh manfaat langsung.
"NTT menurut pengalaman saya pribadi adalah tempat yang sangat menginspirasi. Melalui Desa Adat Wae Rebo, kami membuktikan sebuah desa dapat dilestarikan kembali, dan masyarakatnya pun menjadi tuan rumah,"
Penguatan peran perempuan penenun sekaligus pengembangan pariwisata berbasis masyarakat dinilai berpotensi memperkuat ekonomi lokal. Langkah konkret pada akses pasar, pelatihan, dan dukungan infrastruktur menjadi kunci agar manfaat budaya tenun dapat berkelanjutan bagi keluarga dan desa.
Berita Terkait
Peringatan 11 Juni: Hari Bermain, Kanker Prostat, dan Yarn Bombing
Setiap 11 Juni diperingati beberapa hari internasional yang menyorot bermain anak, deteksi kanker prostat, d...
10 Juni: Hari Kewirausahaan Nasional dan Hari Media Sosial
10 Juni diperingati sebagai Hari Kewirausahaan Nasional dan Hari Media Sosial, mendorong wirausaha dan pengg...
Dari Kardus ke Harapan: Filosofi “Carthea” karya Faisal
Faisal Darmawan mengubah kardus jadi karakter visual "Carthea" sebagai metafora kehidupan dalam pameran dan...
Sejarah dan Makna Hari Arsip Internasional, Diperingati 9 Juni
Hari Arsip Internasional diperingati setiap 9 Juni untuk menyorot peran arsip dalam memori, akuntabilitas, d...
9 Juni: Hari Arsip, Menstruasi Tanpa Malu & Ultah Donald Duck
9 Juni diperingati sebagai Hari Arsip Internasional, Hari Menstruasi Tanpa Maaf, dan ulang tahun Donald Duck...
Jenifer dan Hayato Diperkenalkan di Jepang sebagai Simbol Konservasi
Jenifer dan Hayato akan diperkenalkan di Tobe Zoo pada 6 Juni 2026 sebagai simbol kerja sama konservasi Indo...