DPR: Polemik 'Pesta Babi' Jadi Momentum Evaluasi Pengelolaan SDA
SITUBONDO — Anggota Komisi IV DPR RI, Sonny T Danaparamita, meminta agar polemik film Pesta Babi dijadikan momentum untuk mengevaluasi pengelolaan sumber daya alam (SDA) di Indonesia. Pernyataan itu disampaikan saat hadir di acara pelantikan pengurus PAC Se-Kabupaten Situbondo, Sabtu (16/5/2026). Pemerintah sudah mengklarifikasi tidak ada pelarangan terhadap film tersebut, namun menurut Sonny ada pesan penting terkait dampak lingkungan yang perlu dicermati.
Polemik film sebagai momentum evaluasi
Sonny menilai perdebatan publik terkait film itu membuka ruang diskusi lebih luas tentang cara pengelolaan SDA. Ia menekankan bahwa narasi film memunculkan kekhawatiran soal pengrusakan alam yang dilakukan atas nama pemanfaatan energi atau pangan baru.
"Beberapa hari terakhir, meskipun sudah diklarifikasi oleh pemerintah bahwa film Pesta Babi tidak ada larangan dari pemerintah. Tapi saya kira itu ada satu seruan di dalamnya, bahwa ada pengrusakan alam atas nama sumber-sumber energi ataupun pangan yang baru,"
Kekhawatiran terhadap pembukaan lahan dan eksploitasi
Politikus PDI Perjuangan itu menyoroti potensi dampak sosial dan ekologis dari pembukaan lahan dan eksploitasi SDA. Menurutnya, praktik tersebut harus dikaji secara mendalam agar kebijakan yang diambil tidak menimbulkan kerugian bagi masyarakat di sekitar lokasi.
"Nah ini harus menjadi kajian yang mendalam, tidak semuanya kayak gitu itu pasti buruk, tidak begitu, tapi ini justru menjadi sumber dari evaluasi kita bersama," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan kebutuhan untuk menimbang manfaat ekonomi sekaligus risiko lingkungan sebelum mengizinkan proyek besar.
Kedaulatan pangan tanpa mengorbankan hak adat
Sonny juga mengingatkan bahwa upaya mencapai kedaulatan pangan adalah keharusan nasional. Namun, ia menegaskan implementasinya tidak boleh mengorbankan hak-hak masyarakat adat, keanekaragaman hayati, maupun hak asasi manusia lainnya.
"Jadi sekali lagi, kalau soal kedaulatan pangan itu adalah sebuah keniscayaan, tapi caranya jangan sampai memberangus hak masyarakat adat, memberangus keanekaragaman hayati kita, dan memberangus hak asasi manusia kita yang lain,"
Pernyataan Sonny menempatkan masalah film sebagai pemicu diskusi kebijakan lingkungan dan sosial. Diskusi ini membuka peluang bagi pemerintah dan lembaga terkait untuk mengkaji ulang kebijakan pengelolaan SDA agar seimbang antara kebutuhan ketahanan pangan/energi dan perlindungan hak-hak masyarakat serta lingkungan.
BACA ARTIKEL PDI PERJUANGAN JAWA TIMUR LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
AirNav Bantu Kampung Seling: Turbin PLTMH & Fasilitas Dasar
AirNav dan Pemkab Banyuwangi serahkan turbin PLTMH, musala, ruang kelas, dan sanitasi untuk Kampung Seling p...
DPC PDI Perjuangan Kediri Gelar Tahlil 7 Hari untuk Guruh
DPC PDI Perjuangan Kabupaten Kediri menggelar tahlil tujuh hari untuk Guruh Soekarnoputra, menekankan pentin...
Pemkab Jember Atur Jam Operasional untuk Redam Konflik Pasar Tanjung
Pemkab Jember dan DPRD setujui pengaturan jam operasional Pasar Tanjung sementara menunggu revitalisasi dan...
Warga Surabaya Keluhkan Data Desil Tak Sesuai, DPRD Minta Pendataan
Warga Sukolilo mengeluh peringkat desil tak sesuai; DPRD minta RT/RW mendata warga untuk pendampingan pengaj...
Ratusan Warga Gelar Tahlil untuk Guruh Soekarnoputra di Bangkalan
Ratusan kader dan warga Bangkalan menggelar doa bersama dan tahlil Jumat malam untuk mengenang tujuh hari wa...
PDI Perjuangan Salurkan Bantuan Sosial ke 2.000 Pekerja dan UMKM
PDI Perjuangan menyalurkan ribuan paket kepada 2.000 pekerja informal dan pelaku UMKM di Banyuwangi pada 19-...