Petani Timun Percut Dapat Sistem Penyiraman Otomatis Berbasis IoT
Percut Sei Tuan, Deli Serdang — Tim Pengabdian kepada Masyarakat LPPM Universitas Negeri Medan memasang sistem penyiraman otomatis berbasis IoT dan panel surya di Desa Cinta Damai untuk membantu petani timun meningkatkan efisiensi penggunaan air dan produktivitas.
Program PKM dan tujuan
Program dilaksanakan sebagai respons terhadap tantangan irigasi manual yang menyita waktu, tenaga, dan air. Pelaksanaan melibatkan tim dosen dan mahasiswa untuk memperkenalkan teknologi tepat guna yang mudah digunakan oleh petani setempat.
Tim pelaksana
Kegiatan dipimpin oleh Agnes Irene Silitonga, M.Kom. dan melibatkan sejumlah akademisi serta mahasiswa. Tim inti meliputi:
- Yoakim Simamora
- Michael Immanuel Fritz
- Lisa Melvi Ginting
- Ferry Indra Sakti H. Sinaga
- dukungan beberapa mahasiswa UNIMED
Teknologi dan cara kerja
Sistem menggunakan sensor kelembapan tanah yang memantau kondisi media tanam secara otomatis. Ketika kelembapan turun di bawah ambang batas, pengontrol mengaktifkan pompa untuk menyiram.
Sebaliknya, sistem menghentikan pompa saat sensor mendeteksi kelembapan yang cukup. Mekanisme ini membuat penggunaan air menjadi lebih tepat dan mengurangi risiko penyiraman berlebih atau terlambat.
Selain itu, panel surya menjadi sumber energi utama sehingga operasi tidak sepenuhnya bergantung pada listrik konvensional. Pendekatan ini menurunkan biaya operasional dan memperkenalkan energi terbarukan kepada petani.
Pelatihan dan pendekatan partisipatif
Penerapan perangkat didampingi sesi pelatihan langsung. Pelatihan mencakup prinsip kerja alat, prosedur pengoperasian, perawatan rutin, dan langkah awal penanganan gangguan sederhana.
Pendekatan partisipatif memberi ruang bagi petani untuk berdiskusi dan mencoba langsung sistem. Dengan demikian, alih teknologi berlangsung lebih efektif karena petani menjadi pengguna yang paham akan pemakaian dan perawatan.
Dampak dan prospek
Adopsi sistem sederhana seperti ini diharapkan membantu menghemat waktu dan tenaga serta meningkatkan efisiensi penggunaan air. Dalam jangka panjang, teknologi digital yang terjangkau berpotensi meningkatkan produktivitas dan mendorong praktik bertani yang lebih adaptif.
Program juga menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa, memberi pengalaman penerapan ilmu di lapangan serta pemahaman bahwa inovasi paling efektif adalah yang sesuai kebutuhan masyarakat dan didukung pendampingan berkelanjutan.
Kesimpulannya, kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat melalui program ini menunjukkan bagaimana teknologi sederhana, hemat energi, dan mudah dioperasikan mampu menjawab masalah praktis di sektor pertanian serta mendorong pertanian yang lebih modern dan berkelanjutan.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Kejuaraan Karate Inkanas Open Pelajar Se-Sumut Dibuka di Batubara
Kejuaraan Karate Inkanas Open antar pelajar se-Sumut dibuka di Batubara, 325 atlet dari 12 daerah bersaing m...
Magister Manajemen USM-Indonesia Medan: Program untuk Profesional
Magister Manajemen USM-Indonesia Medan menawarkan program pascasarjana fleksibel dan aplikatif untuk ASN, ma...
Bupati Batubara Puji Bank Sampah Berseri Ubah Sampah Jadi Pakan
Bupati Batubara memuji Bank Sampah Berseri yang mengubah sampah rumah tangga menjadi pakan dan pupuk melalui...
Sumut Target Vaksinasi Rabies 15.000 HPR dan Aspirasi Publik Tuntas di Medan
Pemprov Sumut targetkan vaksinasi rabies 15.000 HPR dan bidik rekor MURI; selain itu masalah warga Medan dit...
Dugaan Ambil Batu Sungai di Irigasi Saba Bolak, APH Diminta Turun
Tokoh Sipirok minta APH periksa dugaan pengambilan batu sungai untuk rehabilitasi Irigasi Saba Bolak; dokume...
Pojok PBB Medan Raih Rp1,07 Miliar, Program Dilanjutkan
Pojok PBB Medan kumpulkan Rp1,07 miliar (15–18 Sept 2026); program dilanjutkan 21–30 Sept di tiga lokasi str...