BI: Penjualan Eceran April 2026 Turun 10% Secara Bulanan
Bank Indonesia (BI)minus 10 persen secara bulanan (month-to-month/mtm) dengan Indeks Penjualan Riil (IPR) diprakirakan mencapai 231,0. Pernyataan ini disampaikan Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, pada Selasa, 12 Mei 2026. BI menyatakan penurunan tersebut dipicu normalisasi permintaan setelah Ramadan dan Idulfitri 1447 H, namun penjualan tahunan masih terjaga pada beberapa kelompok komoditas.
Rincian IPR dan penurunan bulan ke bulan
IPR April 2026 diprakirakan sebesar 231,0, turun dibandingkan IPR Maret 2026 yang tercatat 256,7. Penurunan mtm ini terutama terkait melemahnya permintaan pasca-periode perayaan. Namun BI menegaskan bahwa jika dilihat secara tahunan, kinerja beberapa subsektor tetap positif.
| Periode | IPR | Perubahan mtm |
|---|---|---|
| Maret 2026 | 256,7 | +10,3% (mtm) |
| April 2026 (prakiraan) | 231,0 | -10% (mtm) |
Dorongan pertumbuhan tahunan
Meski IPR April menurun secara bulanan, BI mencatat ada dukungan dari pertumbuhan penjualan tahunan pada sejumlah kelompok. Menurut Denny, kelompok yang menopang IPR April antara lain suku cadang dan aksesori, perlengkapan rumah tangga lainnya, serta subkelompok sandang.
"Penurunan itu dipengaruhi normalisasi permintaan masyarakat setelah periode Ramadan dan Idulfitri 1447 Hijriah,"
"IPR pada April 2026 ditopang oleh pertumbuhan penjualan secara tahunan pada sejumlah kelompok komoditas,"
Kinerja Maret dan kelompok penggerak
BI melaporkan penjualan eceran pada Maret 2026 tumbuh 10,3 persen secara bulanan, meningkat dari 4,1 persen pada Februari. Kenaikan Maret ditopang oleh hampir seluruh kelompok barang, khususnya barang budaya dan rekreasi; makanan, minuman, dan tembakau; bahan bakar kendaraan bermotor; serta subkelompok sandang.
Ekspektasi harga dan tekanan inflasi
Dari sisi harga, indeks ekspektasi harga umum (IEH) menunjukkan tekanan inflasi meningkat untuk periode berikutnya. IEH diprakirakan mencapai 175,6 untuk Juni 2026 dan 163,2 untuk September 2026. Angka ini lebih tinggi dibanding IEH Mei (157,4) dan Agustus (157,2).
| Periode | IEH |
|---|---|
| Mei 2026 | 157,4 |
| Juni 2026 (prakiraan) | 175,6 |
| Agustus 2026 | 157,2 |
| September 2026 (prakiraan) | 163,2 |
"Kenaikan IEH Juni dan September 2026 itu didorong oleh kenaikan harga bahan baku,"
Implikasi dan prospek
Penurunan penjualan eceran April 2026 menggambarkan normalisasi konsumsi pasca-perayaan. Namun, kenaikan ekspektasi harga pada paruh kedua tahun menandakan potensi tekanan inflasi yang perlu dipantau. Pelaku bisnis dan pembuat kebijakan diharapkan memperhatikan dinamika harga bahan baku dan pola permintaan agar langkah penyesuaian kebijakan atau rantai pasok bisa lebih cepat dilakukan.
Berita Terkait
KAI Pasang 113 Unit PLTS untuk Kurangi Emisi Karbon
KAI operasikan 113 unit PLTS di 92 lokasi sejak 9 Juni 2026, dengan kapasitas 4.430,65 kWp dan potensi pengu...
IHSG Naik ke 5.746,65, Saham Big Cap Jadi Penopang
IHSG menguat ke 5.746,65 pada 9 Juni 2026, didorong meredanya ketegangan Timur Tengah dan surplus perdaganga...
BI Naikkan Suku Bunga, Rupiah Menguat 129 Poin
BI naikkan suku bunga 25 bps jadi 5,5%, rupiah menguat 129 poin ke Rp18.058 per dolar; langkah dimaksudkan u...
Analis: Fenomena 'Sell Indonesia' Dipicu Persepsi Investor
Analis menyebut 'Sell Indonesia' dipicu persepsi investor terkait pelemahan rupiah dan tekanan pasar; net se...
Saleh Minta RRI Jelaskan Rincian Realisasi Anggaran 2026
Saleh Partaonan Daulay minta LPP RRI jelaskan rincian realisasi anggaran semester I 2026 agar DPR bisa menge...
Ranch Market Buka di K-MALL Kemayoran, Jadi Destinasi Harian
Ranch Market membuka gerai baru di K-MALL Kemayoran sebagai destinasi harian dengan produk berkualitas, kuli...