Sekretaris DPRD Kritisi Penertiban PKL di Pasar Baru Medan
Medan — Sekretaris Komisi I DPRD Kota Medan, Syaiful Ramadhan, mengkritik penertiban pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Pasar Baru, Kecamatan Medan Kota. Kritik dilontarkan setelah puluhan pedagang di Jalan Semarang, Jalan Bandung, Jalan Bogor, dan Jalan Selat Panjang menerima surat peringatan dari Satpol PP pada 29 Juli 2026 yang meminta mereka mengosongkan lokasi dalam 3×24 jam.
Surat Peringatan dan waktu evakuasi
Sejumlah pedagang melapor menerima surat peringatan pada 29 Juli 2026. Dalam surat itu, Satpol PP meminta semua barang dagangan dipindahkan dan lokasi dikosongkan dalam waktu tiga hari kerja. Langkah ini memicu kekhawatiran karena sebagian pedagang mengandalkan lokasi itu untuk mata pencaharian selama bertahun-tahun.
Kritik soal dasar hukum penertiban
Syaiful menyoroti penggunaan beragam aturan sebagai dasar tindakan. Menurutnya, Pemko Medan mengandalkan hingga 12 dasar hukum — mulai dari undang-undang hingga peraturan wali kota — untuk menertibkan PKL tersebut.
"PKL yang sebagian besar masyarakat kecil ditindak menggunakan 12 aturan perundang-undangan hanya karena berjualan di atas trotoar. Mereka bahkan hanya diberi waktu tiga hari untuk angkat kaki,"
Seruan untuk solusi dan pembinaan
Meski mendukung penataan kawasan, Syaiful meminta penertiban dibarengi solusi praktis untuk pedagang. Ia mengingatkan bahwa banyak PKL bukan pedagang musiman, melainkan telah berjualan selama belasan hingga puluhan tahun.
"Kita mendukung adanya penataan PKL. Tetapi penataan harus dibarengi solusi. Mereka ini bukan pedagang musiman, ada yang sudah berjualan belasan bahkan puluhan tahun,"
Ia menekankan agar Pemko menyediakan lokasi pengganti atau langkah pembinaan sebelum melakukan pengosongan paksa.
Soal keadilan penegakan aturan
Syaiful juga mengkritik kesan ketidakadilan dalam penegakan aturan. Menurutnya, ketegasan pemerintah terhadap PKL terasa tidak seimbang bila dibandingkan dengan penanganan pelanggaran lain.
"Jangan tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas. Penegakan hukum harus berlaku sama bagi semua pihak tanpa memandang siapa pelanggarnya,"
Syaiful meminta agar penegakan hukum dilakukan secara konsisten dan setara bagi seluruh lapisan masyarakat. Ia menegaskan pentingnya solusi manusiawi bagi pedagang kecil agar penataan kota tidak mengorbankan mata pencaharian mereka.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Turunkan Bunga PNM Mekar menjadi 8% Flat per Tahun
Pemerintah menargetkan suku bunga PNM Mekar diturunkan menjadi 8% flat per tahun, didukung subsidi Rp2,6 tri...
Golkar Labura Terima SK Kepengurusan 2025–2030, Fokus Konsolidasi
DPD Golkar Labuhanbatu Utara menerima SK kepengurusan 2025–2030 dan menargetkan konsolidasi serta regenerasi...
Razia di Rutan Banda Aceh, Senjata Tajam dan Benda Terlarang Ditemukan
Razia gabungan di Rutan Kelas IIB Banda Aceh menemukan senjata tajam dan barang terlarang, namun tidak menem...
Wali Kota: Sabang Potensial Jadi Gerbang Ekonomi dan Hub Maritim
Wali Kota Sabang hadir di seminar IKAL Aceh dan sebut Sabang berpotensi jadi hub maritim serta butuh kepasti...
Reses DPRK Subulussalam: Warga Keluhkan Lampu Jalan, Usulkan BLK Kecamatan
Warga Penanggalan keluhkan lampu jalan padam, usulkan BLK kecamatan, air bersih, dan penambahan kursi DPRK p...
Tuntutan 3 Tahun untuk Dua PSK Terkait Pemerasan ASN BPN di Medan
Dua PSK, Fajar dan Junia, dituntut tiga tahun penjara atas pemerasan terhadap ASN BPN Nias, Apriaman Lase, y...