Ekonomi

Peluang Emas Hidroponik di Kupang: Solusi Sayur Segar untuk NTT

Bagikan:
Petani hidroponik menata rak tanam sayur di rumah kaca di Kupang

Kebutuhan sayuran segar di Kota Kupang meningkat, namun pasokan tak konsisten karena keterbatasan lahan dan pola tanam musiman. Kondisi ini membuka peluang usaha berbasis teknologi hidroponik, dinilai sangat potensial di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Awal usaha dan konteks lokal

Robinhood Geraldo Juniver Siahaan, S.P., pemilik Evolusi Hidroponik, menjelaskan peluang tersebut saat menjadi narasumber dalam acara Obrolan Akamsi di RRI Pro 4 Kupang, Selasa, 28 Juli 2026. Ia memulai usaha hidroponik saat pandemi COVID-19 setelah mengamati fluktuasi ketersediaan sayur di Kupang.

Menurut Robinhood, pasokan sayur di kota ini tidak merata sepanjang tahun. Sayuran melimpah pada pertengahan tahun (Mei–Juli), tetapi menjelang akhir dan awal tahun pasokan menipis karena tingginya intensitas hujan. Petani konvensional cenderung beralih menanam padi atau jagung pada periode tersebut.

Mengapa memilih hidroponik?

Robinhood menjelaskan akar kata hidroponik: hidro berarti air dan ponos merujuk pada teknik budidaya. Secara ringkas, hidroponik adalah teknik budidaya yang menggunakan air sebagai media utama pengganti tanah.

Perbedaan mendasar antara sistem konvensional dan hidroponik, menurutnya, terletak pada efisiensi dan kontrol. Hidroponik memungkinkan penggunaan lahan yang lebih kecil, pengelolaan nutrisi yang terukur, serta produksi yang lebih stabil di wilayah perkotaan yang sulit mencari lahan subur.

Kendala dan keuntungan usaha hidroponik

Robinhood menyoroti kendala utama di Kupang: keterbatasan lahan subur dan pola tanam musiman. Namun, ia melihat keuntungan praktis hidroponik untuk mengatasi masalah tersebut. Berikut poin utama yang disampaikan:

  • Meminimalkan ketergantungan pada ketersediaan lahan luas.
  • Meningkatkan konsistensi pasokan sayur sepanjang tahun.
  • Mempermudah kontrol nutrisi dan kualitas produk.

Perihal alasan memilih hidroponik, ia berkata:

"Di Kota Kupang, kalau kita mau pakai cara konvensional kan butuh lahan yang luas dan subur, sementara di area perkotaan itu susah dicari. Karena itu saya memilih sistem hidroponik untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan sayuran segar berkualitas,"

Peluang bisnis di NTT

Robinhood menilai peluang usaha hidroponik di NTT masih sangat terbuka. Ia menyampaikan optimismenya tentang keberlanjutan bisnis ini:

"Peluang bisnis ini hanya akan mati kalau manusia sudah berhenti makan. Selama kebutuhan pangan terus ada, hidroponik di NTT adalah peluang yang sangat menjanjikan,"

Penutup: prospek dan implikasi

Dengan permintaan sayur yang terus tumbuh dan keterbatasan lahan pertanian konvensional di kawasan perkotaan, hidroponik muncul sebagai solusi praktis untuk menstabilkan pasokan dan memenuhi kebutuhan konsumen. Jika didukung pelatihan, akses modal, dan jaringan distribusi, usaha hidroponik berpotensi memperkuat ketahanan pangan lokal dan membuka lapangan usaha baru di NTT.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait