Pelemahan Rupiah Tipis ke Rp17.981, Tekanan Dolar dan RAPBN 2027
Rupiah ditutup melemah tipis 0,02% ke Rp17.981 per dolar AS pada perdagangan Selasa, 29 September 2026. Pelemahan dipicu penguatan dolar AS akibat perkembangan geopolitik dan ekspektasi pengetatan moneter The Fed, sementara DPR mengesahkan RAPBN 2027 yang menetapkan asumsi nilai tukar Rp17.500 per dolar.
Penutupan Pasar
Pada penutupan sore, rupiah turun 3 poin atau 0,02% ke level Rp17.981 per dolar AS. Pelemahan ini lebih tipis dibandingkan sesi siang yang sempat menembus Rp18.000 per dolar.
Faktor Eksternal: Geopolitik dan The Fed
Sentimen global menekan mata uang berisiko, termasuk rupiah. Kabar perundingan antara AS dan Iran, serta permintaan Iran terkait pembukaan Selat Hormuz, memicu kenaikan harga minyak dan aliran ke aset safe-haven.
"AS dan Iran dikabarkan melakukan pembicaraan terpisah dengan bantuan mediator. Iran menunggu tanggapan AS atas proposal Iran membuka Selat Hormuz selama tujuh hari dengan syarat,"
Selain itu, pasar memperhitungkan kelanjutan pengetatan moneter The Fed. Perangkat CME FedWatch menunjukkan peluang sekitar 70% untuk kenaikan suku bunga pada Oktober setelah kenaikan September dan pidato pejabat The Fed yang hawkish.
Agenda Data Ekonomi
Investor juga menanti rilis data inflasi inti Personal Consumption Expenditures (PCE) yang dijadwalkan Rabu besok. Data ini penting untuk menentukan prospek suku bunga AS dan arah dolar jangka pendek. Beberapa data ekonomi lain juga akan dirilis hingga akhir pekan, sehingga volatilitas bisa berlanjut.
Kebijakan Dalam Negeri: RAPBN 2027
Dalam negeri, Rapat Paripurna DPR mengesahkan Rancangan Undang-Undang RAPBN 2027 menjadi undang-undang. Dokumen anggaran itu menetapkan asumsi makro yang menjadi acuan kebijakan fiskal.
| Asumsi / Target | Nilai |
|---|---|
| Pertumbuhan Ekonomi | 6,0% |
| Inflasi | 2,5% |
| Nilai Tukar (Rp/USD) | Rp17.500 |
| Pendapatan Negara | Rp3.425,1 triliun |
| Belanja Negara | Rp4.106,26 triliun |
| Defisit | Rp671,2 triliun (2,4% PDB) |
Penetapan asumsi nilai tukar Rp17.500 per dolar menjadi patokan fiskal tahun depan. Selisih antara asumsi ini dan pasar saat ini dapat memengaruhi ekspektasi pasar atas kebijakan fiskal dan moneter.
Dengan kombinasi tekanan eksternal dan target RAPBN yang lebih kuat, rupiah diperkirakan masih akan bergerak volatil dalam jangka pendek, tergantung data inflasi AS dan perkembangan geopolitik.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...