Denny JA: Lahirnya Pekerja Digital yang Rentan di Era Algoritma
Denny JA, pendiri LSI, menyatakan Indonesia sedang menyaksikan munculnya kelas sosial baru: Digitally Vulnerable Class (DVC) atau pekerja digital yang rentan. Pernyataan itu disampaikan dalam esai yang dipublikasikan di halaman Facebook pribadinya.
Kapitalisme algoritma mengubah aturan
Dalam esainya Denny JA menilai dunia telah beralih ke tahap baru kapitalisme: kapitalisme algoritma. Jika kapitalisme industri bertumpu pada mesin dan kapitalisme finansial pada modal, maka kapitalisme algoritma bertumpu pada data dan algoritma.
Jika kapitalisme industri bertumpu pada mesin dan kapitalisme finansial bertumpu pada modal. Maka kapitalisme algoritma bertumpu pada data dan algoritma.
Algoritma kini bukan sekadar alat bantu produksi. Ia menentukan akses terhadap pekerjaan, penghasilan, reputasi, dan peluang ekonomi bagi jutaan orang.
Siapa saja yang termasuk DVC
Kelompok yang masuk kategori DVC bekerja melalui platform digital. Mereka meliputi:
- Pengemudi ojek dan taksi online
- Kurir digital
- Freelancer dan kreator konten
- Penjual daring dan pekerja platform lain
Estimasi menunjukkan jumlah pekerja platform di Indonesia mencapai sekitar 4 juta, sementara pekerja ekonomi digital secara lebih luas mencapai puluhan juta.
Tiga ciri utama Pekerja Digital yang Rentan
Denny JA merinci tiga karakteristik yang membedakan DVC dari kelas sosial sebelumnya:
- Kerentanan algoritmik: pendapatan, visibilitas, reputasi, dan bahkan kelangsungan pekerjaan dapat berubah karena keputusan sistem digital yang tidak transparan.
- Identitas kolektif digital: meski berlokasi berbeda dan tak pernah bertemu, mereka terhubung lewat aplikasi, media sosial, dan komunitas daring yang membentuk solidaritas baru.
- Kerawanan harapan: banyak pekerja bergantung pada harapan viral, peningkatan rating, atau perubahan algoritma yang memberi harapan akan perbaikan hidup.
Jika pasar menentukan nasib precariat, maka algoritma menentukan nasib DVC.
Dampak dan seruan regulasi
Denny JA menekankan DVC belum sepenuhnya menjadi kelas sosial mapan, namun sudah menjadi cikal bakal kuatnya kelas baru di era digital. Kerentanan ini bersifat sistemik karena pengambilan keputusan ada pada platform dan algoritma, bukan manusia yang bisa diajak berunding.
Sebagai perbandingan, Uni Eropa sudah menetapkan Platform Work Directive untuk menjamin hak pekerja platform. Denny JA mendorong agar Indonesia merancang regulasi serupa agar fleksibilitas ekonomi platform tidak mengorbankan jaminan kesejahteraan jutaan pekerja DVC.
Implikasi ke depan
Esai ini menutup dengan peringatan bahwa pertarungan utama abad ke-21 bukan lagi semata antara buruh dan modal, melainkan antara manusia dan sistem teknologi yang diciptakannya. Negara dan platform diingatkan untuk tidak lagi berlindung di balik istilah inovasi, melainkan mengakui adanya DVC dan merancang perlindungan sosial yang sepadan dengan risiko algoritmik.
Berita Terkait
Angin Pembunuh Galaksi Ungkap Penyebab Galaksi Mati Dini
Pengamatan JWST dan ALMA menemukan aliran gas cepat di CRISTAL-02 yang menghentikan pembentukan bintang dan...
James Webb Temukan Bukti Kuat 'Bintang Lubang Hitam' GLIMPSE-17775
James Webb menemukan bukti kuat fenomena 'bintang lubang hitam' pada GLIMPSE-17775 melalui analisis spektrum...
James Webb Temukan Bukti Kuat 'Bintang Lubang Hitam' GLIMPSE-17775
James Webb merekam bukti kuat fenomena "bintang lubang hitam" pada GLIMPSE-17775 lewat spektrum mendalam yan...
UPJ Gelar CS4ALL untuk Perkuat Literasi Keamanan Siber
UPJ menggelar CS4ALL pada 11 Juni 2026 untuk memperkuat literasi keamanan siber bagi mahasiswa, siswa SMK, d...
175 Produk Digital Lengkapi Self-Assessment di Bawah PP Tunas
Kementerian Kominfo: 175 produk digital dari 64 penyelenggara telah menyerahkan self-assessment wajib di baw...
ASTRAL Andalkan Smart Window dan Fasad 3D di IndoBuildTech 2026
ASTRAL pamerkan AFT Smart Window, pintu LUCE, dan fasad 3D pada Business Impact menjelang IndoBuildTech Expo...