Teknologi

BRIN Terapkan Hybrid Eco-Engineering Lindungi Pantura Jawa

Bagikan:
Ilustrasi demplot breakwater BRIN dengan BRINlock dan penanaman mangrove di Pantura Jawa

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengusung konsep Hybrid Eco-Engineering untuk mempercepat pembangunan pelindung pesisir di Pantai Utara (Pantura) Jawa. Rencana ini terkait persiapan groundbreaking proyek Giant Sea Wall Teluk Jakarta yang diperkirakan dimulai Oktober 2026. Lokasi riset utama adalah Pantai Sederhana, Bekasi, dengan tujuan mengombinasikan struktur keras dan solusi alami demi proteksi lingkungan berkelanjutan.

Rencana demplot breakwater di Bekasi

BRIN menyusun pembangunan demonstration plot (demplot) breakwater sepanjang 100 meter yang dilapisi BRINlock. Struktur ini akan diintegrasikan dengan penanaman mangrove untuk memperkuat perlindungan pesisir secara alami dan teknis. Proposal riset telah disetujui, sementara finalisasi anggaran menunggu konfirmasi dalam satu hingga dua minggu ke depan.

Koordinasi dilakukan bersama Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ) agar lokasi demplot sesuai dengan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (KKPRL) yang ada.

'Koordinasi bersama BOPPJ menyepakati rencana lokasi riset BRIN berupa pembangunan demplot breakwater di Pantai Sederhana, Bekasi. Di sana, kami mengusung konsep Hybrid Eco-Engineering,' ujar Dinar Catur Istiyanto, Perekayasa Ahli Madya PRTH BRIN.

Kesiapan data dan kolaborasi industri

Tim BRIN saat ini melakukan pengukuran batimetri dan pengumpulan data tanah untuk mendukung implementasi fisik. Persiapan teknis menjadi prioritas sebelum konstruksi dimulai.

Produksi unit lapis lindung BRINlock berpotensi dilakukan bersama PT Semen Indonesia (Persero) atau BUMN konstruksi lain sebagai mitra produksi.

Aspek ekologis: mangrove dan ancaman tambak

BRIN menyoroti bahwa kerusakan mangrove di kawasan seperti Muara Gembong tidak hanya disebabkan gelombang laut. Pembukaan lahan untuk tambak ikut mempercepat degradasi ekosistem pesisir.

'Banyaknya pengajuan pembukaan lahan untuk area tambak menjadi tantangan. Studi kami menunjukkan kerusakan mangrove tidak semata-mata akibat hantaman gelombang,' kata Khusnul Setia Wardani, Koordinator implementasi demplot rehabilitasi mangrove PRTH BRIN.

Ia menekankan pentingnya kajian zonasi dan spesifikasi vegetasi, termasuk pemilihan jenis mangrove dan jarak aman antara hutan mangrove dan tanggul, sebelum konstruksi masif dilakukan. Sebagai referensi, transisi ekologi di Losarang, Indramayu menunjukkan tanggul bisa memicu sedimentasi yang mendorong regenerasi mangrove alami.

Respons BOPPJ dan tantangan regional

Pihak BOPPJ menyatakan siap mengintegrasikan rekomendasi riset BRIN ke dalam rencana tata ruang Teluk Jakarta. Langkah awal adalah pengumpulan dan pemetaan data mangrove serta area tambak.

'Kami akan segera melakukan pengumpulan serta pemetaan data untuk area mangrove dan tambak. Data itu akan dituangkan dalam peta layout dan cross section untuk perencanaan wilayah Teluk Jakarta,' ujar Deputi I BOPPJ, Sawarendro.

Sawarendro juga menyoroti tantangan penurunan tanah di segmen Kendal-Semarang-Rembang meski penggunaan air tanah dibatasi. Ia berharap BRIN memberi telaah teknis terkait kolam retensi, area water treatment, serta kajian tektonik dan geologi yang memengaruhi Pantura. Untuk semarang, penggunaan BRINlock di depan tanggul dinilai efisien sebagai pemecah gelombang tanpa membutuhkan struktur berlebihan.

Langkah BRIN ini membuka harapan integrasi antara solusi teknik dan alamiah dalam proyek pelindung pesisir, sekaligus menuntut kajian zonasi yang matang agar pembangunan berkelanjutan dapat tercapai.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait