IHSG Ditutup Melemah 0,64% ke 6.091,39, Mayoritas Saham Merah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada Rabu, 29 Juli 2026. IHSG turun 39,20 poin (0,64%) ke level 6.091,39 setelah bergerak dalam kisaran 6.029,32–6.174,41 selama hari perdagangan.
Pergerakan pasar dan data perdagangan
IHSG sempat dibuka menguat di level 6.141,16, namun penguatan itu tidak bertahan dan indeks bergerak melemah sepanjang hari. Volume perdagangan tercatat sebesar 39,368 miliar saham dengan nilai transaksi sekitar Rp22,622 triliun. Kapitalisasi pasar dilaporkan pada angka Rp10.698,856 triliun.
Jumlah saham yang menguat mencapai 177 saham, sementara 468 saham melemah dan 148 saham lainnya tidak mengalami perubahan harga.
Analisis teknikal dan proyeksi
Sejumlah analis melihat pergerakan awal hari sebagai potensi technical rebound jangka pendek. Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman menilai ruang penguatan indeks masih terbuka secara teknikal.
"IHSG berpeluang untuk short-term technical rebound hari ini,"
Fanny memproyeksikan level support IHSG berada di kisaran 6.050–6.100 dan level resistance di rentang 6.170–6.230.
Saham-saham yang menonjol
Beberapa emiten mencatat kenaikan signifikan pada perdagangan hari ini. Menurut Pilarmas Investindo Sekuritas, saham-saham yang naik antara lain:
- MGNA
- DWGL
- ECII
- MTWI
- KOPI
Pilarmas juga merekomendasikan ULTJ dengan rekomendasi beli pada kisaran support dan resistance 1.350–1.450.
Sentimen global dan prospek aliran modal
Pelaku pasar masih mencermati perkembangan ekonomi global, terutama menjelang keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed). Kenaikan harga energi saat ini dinilai lebih dipengaruhi oleh gangguan pasokan jangka pendek dibanding tekanan inflasi struktural.
Pasar mencatat probabilitas kenaikan suku bunga sempat mendekati 40 persen, sehingga setiap sinyal dari The Fed diperkirakan akan berdampak pada arus modal asing dan sentimen di bursa saham Indonesia.
Dengan sejumlah sentimen global yang masih mengambang, pelaku pasar kemungkinan akan tetap berhati-hati menunggu data ekonomi dan keputusan kebijakan moneter internasional sebelum menentukan arah investasi berikutnya.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...