Mengapa Lahan Gambut di Kalimantan Mudah Terbakar?
Lahan gambut di Kalimantan mudah terbakar
Mengapa gambut jadi rentan?
Gambut secara alami berfungsi sebagai penyimpan air besar. Saat permukaan gambut mengering, lapisan atas kehilangan kelembapan sehingga menjadi mudah terbakar dan lebih cepat menyala.
Pengeringan yang parah dapat menyebabkan irreversible drying, yaitu kondisi kering permanen yang menurunkan kemampuan gambut menahan air. Setelah itu, kemampuan pulih gambut sangat terbatas.
Kebakaran pada gambut juga berbeda karakter: api tidak hanya membakar vegetasi permukaan tetapi bisa merambat ke lapisan gambut yang tebal, membuat pemadaman lebih sulit dan berlarut.
Peran manusia dan praktik pembukaan lahan
Data menunjukkan sekitar 98 persen kebakaran hutan dan lahan gambut di Indonesia terkait aktivitas manusia, baik disengaja maupun kelalaian. Salah satu praktik yang masih umum adalah membuka lahan dengan membakar karena dianggap cepat dan murah.
Pembukaan lahan dengan api dan sistem drainase yang terlalu dalam mempercepat pengeringan gambut. Drainase menghilangkan cadangan air sehingga lapisan gambut atas menjadi bahan bakar mudah terbakar.
Dampak kebakaran gambut
Kebakaran gambut membawa dampak jangka pendek dan panjang yang luas. Selain menghanguskan vegetasi, kebakaran merusak sifat biofisik dan kimia tanah gambut.
- Hilangnya unsur hara dan menurunnya kesuburan tanah.
- Pelepasan cadangan karbon besar yang memperburuk perubahan iklim.
- Percepatan subsiden atau turunnya permukaan tanah gambut.
- Peningkatan risiko genangan saat musim hujan; lahan bisa tergenang permanen jika mencapai drainability limit.
- Lapisan organik gambut tergerus bertahap sehingga ekosistem kehilangan fungsi ekologisnya.
Secara global, gambut hanya menempati sekitar tiga persen daratan, namun mampu menyimpan sekitar 550 gigaton karbon. Di Indonesia, cadangan karbon gambut diperkirakan mencapai sekitar 57 gigaton, atau sekitar 20 kali lebih besar dibandingkan simpanan karbon pada tanah mineral.
Arah pengelolaan dan pencegahan
Mencegah kebakaran gambut menuntut perubahan praktik lapangan dan pemulihan hidrologi gambut. Menghentikan pembukaan lahan dengan api, mengurangi drainase berlebihan, dan merehabilitasi cekungan air adalah langkah awal yang krusial.
Tanpa upaya pengelolaan yang lebih baik, area gambut berisiko kehilangan kemampuan menyimpan air dan karbon secara permanen. Akibatnya, nilai ekologis dan fungsional gambut sebagai penyimpan karbon dan penyedia layanan air akan terus menurun.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Siapkan Pusat Rehabilitasi untuk Warga Binaan Narkotika
Pemerintah siapkan pusat rehabilitasi dan reedukasi bagi warga binaan pengguna narkotika untuk atasi overkap...
BMKG Waspadai Hujan Lebat, Petir, Angin Kencang 5-8 Okt
BMKG keluarkan peringatan dini hujan lebat, petir, dan angin kencang pada 5-8 Oktober 2026; waspadai empat w...
Prabowo Pimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap
Presiden Prabowo memimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap, 5 Oktober 2026; melibatkan 3.378 personel...
HUT TNI ke-81: DPR Dorong Modernisasi Hadapi Perang Modern
DPR mendesak modernisasi alutsista dan peningkatan pelatihan TNI menjelang HUT ke-81, seiring anggaran 2027...
Dua Induk Badak Sumatera Bunting di Way Kambas, Harapan Konservasi
Dua induk badak sumatera, Ratu dan Delilah, dinyatakan bunting di Suaka Rhino Sumatra Way Kambas; pemantauan...
Prabowo Minta Bakom Gunakan Bahasa Sederhana dan Dengarkan Rakyat
Presiden Prabowo minta Bakom gunakan bahasa sederhana, jelaskan alasan kebijakan, dan dengarkan masukan masy...