Cara Praktis Menjaga Lahan Gambut Agar Tak Mudah Terbakar
Kebakaran lahan gambut kembali mengancam beberapa wilayah di Kalimantan, terutama pada musim kemarau. Untuk mencegah luasnya kebakaran, langkah utama adalah mempertahankan gambut tetap basah lewat pengelolaan tata air, teknik tanpa bakar, pemilihan tanaman, dan pemantauan intensif.
Mengapa kelembapan gambut penting?
Gambut yang kehilangan kelembapan berubah menjadi bahan bakar mudah terbakar. Ketika kering, satu titik api kecil bisa menyulut kebakaran yang meluas. Oleh karena itu, pencegahan lebih efektif dibandingkan penanganan setelah api menyala.
Pengelolaan tata air dan rewetting
Prinsip utama pengelolaan gambut adalah menjaga kadar air. Pengelolaan tata air dan pembasahan kembali (rewetting) menjadi prioritas pada kawasan yang rawan kering.
Upaya ini mencakup perbaikan kanal, sekat air, dan pemulihan permukaan air agar gambut mempertahankan kelembapan. Gambut yang cukup basah akan lebih sulit terbakar dan terus menjalankan fungsi ekologisnya.
Pengelolaan lahan tanpa bakar (PLTB)
Pembukaan lahan dengan api meningkatkan risiko kebakaran gambut. Sebagai alternatif, praktik Pengelolaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) menawarkan metode pembersihan dan penyiapan lahan tanpa menggunakan api.
- Penyiapan manual: mencabut pohon, meratakan lahan, dan membersihkan vegetasi secara mekanis atau manual.
- Pemulihan kesuburan: penggunaan pupuk kompos dan pupuk hayati untuk memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman.
- Edukasi masyarakat: memperkenalkan teknik ini agar tidak tergoda membakar lahan demi kesuburan palsu.
Pemilihan varietas tanaman yang adaptif
Pemilihan tanaman yang toleran terhadap kondisi asam dan tergenang membantu menjaga gambut tetap basah. Contoh praktis adalah budidaya padi rawa pada gambut tipis.
Dengan varietas yang tepat, petani dapat berproduksi tanpa harus mengeringkan lahan. Ini mengintegrasikan produktivitas dan perlindungan ekosistem gambut.
Pemantauan, data, dan pelaporan dini
Pemantauan tingkat keterbasahan dan karakteristik gambut sangat penting untuk mengidentifikasi kawasan rentan. Pemerintah daerah di beberapa wilayah Kalimantan memperkuat inventarisasi ekosistem gambut sebagai dasar mitigasi kebakaran.
Masyarakat diminta segera melaporkan titik panas kepada petugas agar penanganan bisa dilakukan sejak dini dan mencegah kebakaran meluas.
Sumber informasi dan referensi
Rangkaian langkah praktis ini merujuk pada panduan pengelolaan lahan gambut dari World Resources Institute dan praktik lapangan yang direkomendasikan untuk mitigasi karhutla.
Dengan kombinasi pengelolaan tata air, metode tanpa bakar, pemilihan tanaman adaptif, serta pemantauan aktif, risiko kebakaran gambut dapat diminimalkan secara signifikan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Indonesia-Tiongkok Perkuat Kerja Sama AI dan Transformasi Digital
Indonesia dan Tiongkok sepakat memperkuat kerja sama AI, transformasi digital, infrastruktur, dan energi hij...
Mengapa Lahan Gambut di Kalimantan Mudah Terbakar?
Gambut di Kalimantan mudah terbakar saat mengering karena drainase dalam dan pembukaan lahan pakai api, memp...
DPR Minta Pemerintah Pusat Ambil Alih Penanganan Karhutla
DPR minta pemerintah pusat ambil alih penanganan karhutla di Kalimantan dan Sumatra karena eskalasi, keterba...
Muktamar Ke-35 NU di Jombang: Harapan Tenang dan Dampak Ekonomi
Muktamar Ke-35 NU di Jombang memicu peluang ekonomi lokal dan harapan agar forum berjalan tertib tanpa mengu...
Ratusan Personel Padamkan Karhutla di Taman Nasional Way Kambas
Sekitar 200 personel gabungan memadamkan karhutla di Taman Nasional Way Kambas pada 22 Agustus 2026; titik a...
Pusdokkes Polri Layani 120 Pengungsi Gempa di Reo
Pusdokkes Polri membuka pos layanan kesehatan di Posko Barakalong, Reo; hingga 23 Agustus 2026 sekitar 120 p...