DPR: Program MBG Dorong Pertumbuhan Ekonomi NTB
Anggota Komisi XI DPR RI Kamrussamad menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya di Nusa Tenggara Barat (NTB). Pernyataan itu disampaikan pada Senin, 13 Juli 2026, terkait peran MBG dalam memperkuat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sektor pangan.
MBG sebagai mesin ekonomi lokal
Kamrussamad mengatakan MBG bukan sekadar program pemenuhan gizi. Program ini bisa menciptakan kepastian pasar bagi pelaku usaha lokal sehingga mendorong peningkatan produksi dan perluasan usaha.
Menurutnya, kepastian permintaan dari program pemerintah memberi sinyal kuat kepada UMKM untuk meningkatkan kapasitas dan mengakses pembiayaan perbankan.
"MBG harus dipandang sebagai mesin ekonomi. Jika dikelola dengan benar, program ini bisa menjadi penggerak ekonomi lokal yang melahirkan pengusaha-pengusaha baru dari daerah,"
Rantai pasok lokal dan efek berganda
Kamrussamad mendorong agar rantai pasok MBG lebih banyak melibatkan pelaku usaha daerah, mulai dari penyediaan bahan baku, distribusi, hingga pengelolaan dapur. Keterlibatan ini dinilai akan meningkatkan perputaran uang di tingkat lokal.
Ia menyoroti efek berganda dana APBN yang disalurkan melalui MBG karena menyentuh petani, peternak, pelaku logistik, dan tenaga kerja di pengolahan pangan.
| Provinsi | Realisasi Anggaran | Penerima Manfaat |
|---|---|---|
| Nusa Tenggara Barat (NTB) | Rp2,02 triliun (sampai 31 Mei 2026) | 1,89 juta penerima |
Respon pelaku usaha dan kebutuhan regulasi
Pelaku usaha MBG menyambut baik peluang yang tercipta, namun menekankan pentingnya kepastian regulasi. Ahmad Tantawi menyatakan regulasi yang jelas akan mendorong investasi dalam ekosistem MBG.
"Kepastian regulasi akan memberikan keyakinan bagi pelaku usaha untuk ikut mengembangkan ekosistem MBG,"
Dengan kepastian kebijakan, pelaku usaha di tingkat lokal diharapkan berani meningkatkan investasi dan kapasitas produksi. Hal ini berpotensi mempercepat terciptanya rantai nilai yang lebih kuat di daerah.
Implikasi dan langkah ke depan
Jika pemda dan pemerintah pusat mengarahkan pengadaan MBG pada produk lokal serta memperkuat akses pembiayaan, program ini bisa menjadi katalis bagi pertumbuhan UMKM pangan di NTB. Evaluasi pelaksanaan dan pengawasan distribusi tetap diperlukan untuk memastikan tujuan gizi dan ekonomi terpenuhi.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Prabowo: Program MBG Capai 62 Juta Penerima Manfaat
Prabowo sebut MBG menjangkau 62 juta penerima dan perkenalkan Kepala Badan Gizi baru saat Muktamar NU, 27 Ag...
Tak Maju Ketum PBNU, Nasaruddin Umar Fokus sebagai Menteri Agama
Nasaruddin Umar menolak maju sebagai Ketum PBNU dan memilih fokus menjalankan tugas sebagai Menteri Agama, m...
Sekolah Rakyat Jadi Strategi Negara Memutus Mata Rantai Kemiskinan
Pemerintah luncurkan Sekolah Rakyat untuk menjemput anak keluarga miskin, fokus desil 1-2, dengan target 1 j...
Kemendikdasmen Pulihkan Trauma Murid Terdampak Gempa NTT
Kemendikdasmen bersama HIMPSI memberikan dukungan psikososial bagi murid dan guru terdampak gempa NTT untuk...
Kemendikdasmen Pulihkan Trauma Murid Terdampak Gempa di NTT
Kemendikdasmen dan HIMPSI melakukan pendampingan psikososial bagi murid dan guru terdampak gempa NTT untuk m...
Prabowo Tekankan Kedekatan Pemerintah dengan NU dan Muhammadiyah
Presiden Prabowo menegaskan pentingnya hubungan dekat pemerintah dengan NU dan Muhammadiyah saat membuka Muk...