Peneliti Internasional Teliti Manuskrip Tanoh Abee di Aceh
Kota Jantho, Aceh Besar — Sejumlah peneliti dari Indonesia, Inggris, dan Jerman mengunjungi Zawiyah Teungku Chik Tanoh Abee di Kecamatan Seulimeum, Rabu (22/7). Kunjungan ini bertujuan memperkuat kerja sama penelitian dan mengkaji koleksi manuskrip kuno yang menjadi khazanah intelektual Aceh.
Kunjungan dan delegasi
Rombongan datang dari Museum Pedir, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), SOAS University of London, serta Universität Hamburg. Mereka disambut langsung oleh pimpinan Zawiyah, Teungku Abdul Hafidh Al-Fairusy Al-Baghdady, yang dikenal sebagai Cut Fid, didampingi Teuku Abulis.
Menelusuri sejarah dan koleksi
Para peneliti diajak menelusuri sejarah pendirian Zawiyah dan melihat koleksi naskah yang tersimpan di perpustakaan. Koleksi itu memuat catatan sejarah, ilmu keislaman, serta dokumen perkembangan pemikiran masyarakat Islam di Aceh selama berabad-abad.
Tujuan penguatan kerja sama penelitian
Pimpinan Zawiyah menjelaskan kunjungan ini bagian dari upaya menghidupkan kembali jaringan penelitian yang pernah terjalin dengan akademisi internasional. Ia berharap kajian terhadap naskah-naskah kuno Tanoh Abee makin intensif sehingga warisan intelektual Aceh lebih dikenal dunia akademik.
"Kunjungan ini menjadi langkah awal untuk memperkuat kembali kerja sama penelitian yang pernah terbangun dengan para peneliti internasional. Harapannya, manuskrip-manuskrip kuno Tanoh Abee semakin banyak dikaji sehingga warisan intelektual Aceh dapat dikenal lebih luas di dunia akademik,"
Jejak hubungan akademik sebelumnya
Dalam pertemuan itu, Cut Fid juga mengenang hubungan erat dengan almarhum Prof. Russell Jones dari SOAS. Menurutnya, Prof. Jones beberapa kali datang untuk berdiskusi sejarah Aceh dan meneliti koleksi manuskrip di perpustakaan Zawiyah.
Respons peneliti asing
Dr. Mulaika Hijjas dari SOAS mengaku terkesan dengan sambutan dan kondisi perpustakaan. Ia berharap dapat kembali dan tinggal lebih lama untuk memperdalam penelitian terhadap naskah-naskah yang ada.
"Saya berharap bisa kembali lagi dan tinggal lebih lama di sini agar dapat mempelajari lebih banyak manuskrip kuno yang tersimpan di Perpustakaan Tanoh Abee,"
Rekan peneliti, Raisa Kamila, menyatakan kekaguman terhadap suasana Zawiyah yang masih mempertahankan tradisi keilmuan Islam. Selain naskah, ia juga tertarik pada koleksi satwa eksotik yang dimiliki secara pribadi oleh pimpinan Zawiyah di area taman safari lingkungan Zawiyah.
Implikasi dan langkah ke depan
Kunjungan ini membuka peluang penelitian lintas institusi untuk mendokumentasikan, mempreservasi, dan menerbitkan kajian tentang manuskrip Aceh. Jika kerja sama berlanjut, koleksi Tanoh Abee berpotensi menjadi rujukan penting bagi studi sejarah dan pemikiran Islam Nusantara.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemprov Sumut Rampungkan PA untuk Usulan Megalitik Nias Selatan ke UNESCO
Pemprov Sumut menyelesaikan dokumen PA untuk mengusulkan kawasan megalitik Nias Selatan ke UNESCO; dokumen d...
Pemkab Tapanuli Utara Salurkan Rp137,5 Juta Bantuan Sosial Tunai
Pemkab Tapanuli Utara menyalurkan bantuan sosial tunai Rp137,5 juta untuk pengobatan dan perbaikan rumah kor...
Polrestabes Medan Tangkap Empat Pelaku Begal Bersenjata
Polrestabes Medan menangkap empat pelaku komplotan begal bersenjata di Percut Seituan; korban TSF kehilangan...
Menko Yusril Tinjau Showroom Dekranasda Aceh Besar
Menko Yusril dan istri mengunjungi Showroom Dekranasda Aceh Besar pada 5 November untuk meninjau dan mengapr...
Aceh Besar Gelar Retret Keuchik untuk Perkuat Pemerintahan Gampong
Aceh Besar menggelar retret 8-11 Nov di Jantho bagi 234 keuchik untuk menyelaraskan kebijakan dan memperkuat...
Kapolres Binjai Jadi Khatib Salat Jumat, Tegaskan Bahaya Narkoba
Kapolres Binjai AKBP R. Bimo Moernanda menjadi khatib Salat Jumat di Masjid Raya Binjai (6/11), mengingatkan...