Kriyanusa 2026 Tekankan Kerajinan Berwawasan Lingkungan
Ketua Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Tri Tito Karnavian menegaskan pameran Kriyanusa 2026 akan menempatkan aspek lingkungan sebagai fokus utama. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Komunikasi dan Digital, Jakarta, Jumat, 18 September 2026. Pameran digelar pada 26-30 September 2026 di Jakarta Convention Center, Senayan.
Detail acara dan tema
Kriyanusa 2026 menampilkan produk kerajinan khas nusantara dari berbagai daerah. Penyelenggara memilih tema "Cipta Kriya Berkelanjutan, Perajin Mendunia" untuk menyoroti kesinambungan produksi dan nilai lingkungan. Ajang ini menjadi wadah perajin lokal untuk menarik pasar nasional dan internasional.
Fokus pada aspek lingkungan
Tri Tito menekankan bahwa seluruh produk yang dipamerkan harus memperhatikan aspek lingkungan. Menurutnya, kerajinan yang diproduksi harus bisa berkelanjutan dalam jangka panjang, bukan sekadar siklus sekali pakai.
"Hasil-hasil kerajinan ini harus berkesinambungan. Tidak hanya dalam siklus yang satu kali, tapi siklus yang terus-menerus, yang pasti juga memperhatikan aspek lingkungan,"
Penekanan ini selaras dengan perhatian global terhadap isu lingkungan. Dekranas ingin memastikan produk kerajinan tidak hanya estetis, tetapi juga ramah lingkungan dan bertanggung jawab.
Dukungan untuk ekowisata dan pasar global
Tri Tito menyatakan integrasi aspek lingkungan pada produk kerajinan bagian dari strategi mendukung ekonomi wisata hijau. Hal ini dinilai mampu meningkatkan daya saing kerajinan nusantara di pasar global.
"Karena memang isu lingkungan di seluruh dunia, untuk produk-produk utamanya kerajinan tangan, ini pasti lebih menjual dengan isu-isu lingkungan yang mana kita mendukung ekowisata. Dan kemudian juga kita ingin mencapai pasar dunia,"
Dengan menonjolkan karakter berkelanjutan, Kriyanusa 2026 diharapkan menarik minat pembeli yang peduli lingkungan. Selain itu, perajin mendapat peluang memperluas jangkauan pasar ke luar negeri.
Implikasi dan prospek
Pameran ini berpotensi mendorong praktik produksi yang lebih hijau di sektor kerajinan. Jika berjalan sesuai rencana, inisiatif ini dapat memperkuat citra kerajinan Indonesia sebagai produk bernilai estetika sekaligus bertanggung jawab terhadap lingkungan. Pelaku industri dan pemangku kepentingan diperkirakan akan mengamati hasilnya untuk langkah berikutnya.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Mensos Gus Ipul Tekankan 3 Prioritas untuk Benahi Kemensos
Mensos Saifullah Yusuf minta Kemensos benahi sarana prasarana, tata kelola, dan integritas demi pelayanan le...
Kemensos Siapkan Rp56 Miliar untuk 41.555 Warga Tapteng
Kemensos alokasikan lebih dari Rp56 miliar untuk jadup 41.555 jiwa Tapanuli Tengah dan Rp16 miliar untuk isi...
Mentan Amran Ingatkan Mahasiswa UMRI Jauhi Korupsi dan Bangun Integritas
Mentan Amran mengingatkan 3.738 mahasiswa baru UMRI untuk menjauhi korupsi, membangun integritas, dan memand...
Koalisi Tolak Pangkas 297 DIM dalam RUU Agraria
Koalisi sipil menolak usulan pemerintah memangkas 297 DIM RUU Agraria yang dinilai melemahkan upaya reforma...
Kriyanusa 2026 Digelar di JCC, Sumsel Ditetapkan Sebagai Ikon
Kriyanusa 2026 digelar 28-30 September di JCC Senayan; Sumsel ditetapkan sebagai ikon pameran untuk menonjol...
Timnas Hoki Putri Jadikan Laga Kontra Jepang Sebagai Evaluasi
Pelatih Dhaarma jadikan kekalahan 0-7 dari Jepang (19 Sept 2026) sebagai evaluasi; fokus peningkatan fisik d...