Nasional

Ketahanan Nasional Hadapi Ancaman Asimetris: Pandangan Pakar UI

Bagikan:
Dialog pakar membahas ketahanan nasional dan ancaman asimetris dalam konteks internasional

Dr. Stanislaus Riyanta, pengamat Intelijen dan Kajian Stratejik Universitas Indonesia, menekankan pentingnya memperkuat ketahanan nasional untuk menghadapi ancaman lintas batas yang kini bersifat asimetris. Menurutnya, fokus pada kemampuan adaptasi dan penguatan potensi domestik menjadi kunci agar negara mampu bertahan dari berbagai gangguan.

Definisi ketahanan nasional

Riyanta menjelaskan bahwa ketahanan nasional adalah kebalikan dari kerentanan. Negara harus melihat dan menguatkan potensi diri agar mampu beradaptasi saat menghadapi ancaman, tantangan, hambatan, maupun gangguan.

"Ketahanan itu semacam kebalikan dari kerentanan. Jadi kita melihat potensi diri kemudian menguatkannya,"

Ancaman kini bersifat asimetris

Dia menilai perubahan karakter ancaman membuat pengelolaan keamanan semakin kompleks. Ancaman tidak hanya datang dari negara lain, tetapi juga dari aktor non-negara. Kompleksitas ini mempersulit prediksi jika negara hanya fokus pada jenis ancaman semata.

"Ketika kita fokus pada ketahanan, apapun ancamannya kita memikirkan bagaimana kita bertahan. Dan tetap adaptif,"

Strategi penguatan ketahanan

Riyanta menguraikan beberapa elemen yang harus menjadi perhatian dalam membangun ketahanan nasional:

  • Penguatan masyarakat sebagai basis sosial yang tangguh.
  • Kesiapan aparat negara untuk respons cepat dan terkoordinasi.
  • Deteksi dini terhadap potensi kerentanan sosial dan ekonomi.
  • Pengelolaan informasi untuk mencegah provokasi yang mengeksploitasi celah sosial.

"Informasi harus difilter, ketika sifatnya mengeksploitasi kerentanan harus dicegah. Sedangkan informasi penguat solidaritas perlu disebarluaskan,"

Peran Indonesia di forum internasional

Riyanta juga menilai pengalaman Indonesia dalam menjaga keberagaman bisa menjadi contoh untuk ditawarkan secara global. Kehadiran Indonesia di forum internasional dapat membawa tangible solutions, termasuk kerja sama terkait transisi energi berkeadilan seperti JETP (Just Energy Transition Partnership).

Dengan pendekatan ini, Indonesia tidak hanya memperkuat pertahanan dalam negeri, tetapi juga memberikan kontribusi praktis terhadap isu-isu global yang berkaitan dengan keamanan dan keberlanjutan.

Ke depan, implementasi strategi ketahanan yang terintegrasi antara masyarakat, aparat, dan pengelolaan informasi akan menentukan kemampuan Indonesia menghadapi ancaman asimetris yang terus berubah.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait