Nasional

Ketahanan Ekonomi Indonesia: Strategi Hadapi Turbulensi Global

Bagikan:
Dialog Nasional UNTAR: ekonom membahas strategi ketahanan ekonomi dan pembentukan Bursa Mineral Indonesia

Ekonom menyoroti reformasi, investasi, dan tata kelola sebagai strategi utama menghadapi gejolak ekonomi global. Pernyataan itu disampaikan pada Dialog Nasional "Menguji Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Turbulensi Global: Tahan Banting atau Rentan?" di Auditorium Lantai 3 Universitas Tarumanagara, Jakarta, Jumat, 17 Juli 2026.

Transformasi ekonomi sebagai respons utama

Ketua Yayasan Tarumanagara, Ariawan Gunadi, menilai percepatan transformasi ekonomi menjadi kunci. Ia menekankan hilirisasi, investasi strategis, dan perbaikan tata kelola sebagai langkah konkret.

"Turbulensi global tidak menentukan masa depan Indonesia. Keberanian bertransformasi dan membangun daya saing menjadi faktor penentunya,"

Menurut Ariawan, perubahan rantai pasok global membuka peluang bagi Indonesia, asalkan didukung produktivitas dan kepastian hukum.

Bursa Mineral Indonesia untuk menguatkan posisi tawar

Ariawan mendorong pembentukan Bursa Mineral Indonesia mulai awal 2027. Kebijakan itu diharapkan meningkatkan daya tawar negara dalam perdagangan mineral dan mendukung kebijakan hilirisasi.

Hilirisasi disebut sebagai pendorong utama pertumbuhan industri. Data menunjukkan nilai ekspor logam berbasis nikel meningkat hampir sepuluh kali lipat sejak 2019.

Investasi strategis yang diprioritaskan

Investasi diarahkan ke sektor yang diprediksi menopang pertumbuhan jangka panjang. Prioritasnya meliputi:

  • Kecerdasan buatan dan teknologi tinggi;
  • Pusat data untuk infrastruktur digital;
  • Energi terbarukan untuk ketahanan energi dan dekarbonisasi.

Langkah ini bertujuan mengalihkan perekonomian ke kegiatan bernilai tambah lebih tinggi.

Persepsi risiko dan fokus pada masalah domestik

Ekonom Senior Piter Abdullah dari Prasasti Center menyatakan fundamental ekonomi Indonesia relatif kuat. Namun, persepsi risiko investor masih memberi tekanan pada pasar keuangan.

"Yang perlu dikelola adalah risiko dalam perekonomian domestik. Jika itu dilakukan baik, Indonesia mampu menghadapi turbulensi global,"

Piter menyoroti risiko fiskal, termasuk beban utang, pelemahan rupiah, dan penerimaan negara, sebagai sumber kekhawatiran bagi pelaku pasar.

Ia juga menekankan pentingnya tata kelola pemerintahan yang akuntabel untuk menekan persepsi risiko dan memulihkan kepercayaan investor.

Penutup: Fondasi untuk ketahanan jangka panjang

Para pembicara sepakat bahwa penguatan reformasi, investasi, dan tata kelola merupakan fondasi untuk menghadapi ketidakpastian global. Jika langkah-langkah ini dijalankan konsisten, Indonesia diperkirakan dapat menjaga pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan meski kondisi eksternal bergejolak.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait